twitter




Pertama kali melihat buku berjudul Tuhan Tidak Perlu Dibela ini di sebuah toko buku, dan kemudian mengetahui penulisnya adalah Gus Dur, saya langsung mengira bahwa buku ini berupa sekumpulan bantahan terhadap literalisasi Islam oleh para literalis secara tidak langsung. Di sini saya menggunakan istilah “literalis” dan cabangnya alih-alih “radikalis” atau “fundamentalis” yang secara subyektif tidak tepat. Saya katakan pula “tidak langsung” karena Gus Dur telah wafat beberapa waktu sebelum literalisasi tersebut mencapai puncaknya.

Tentu hanya segelintir orang saja dari kita yang tidak tahu mengenai peristiwa aksi massa baru-baru ini, yaitu penggalakan massa yang dimaksudkan untuk menggugat tertuduh penista agama agar supaya dihukum sesuai ketentuan yang tercantum dalam undang-undang. Padahal tertuduh sekadar mengucapkan keadaan di lapangan menurut “analisis”-nya terkait pilkada, sudah menjelaskan bahwa ucapannya tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapa pun serta telah meminta maaf. Adegan masih ditambah lagi dengan tindakan memusuhi terhadap roti tawar merk tertentu karena penegasan perusahaan produsen atas ketidak terlibatannya terhadap aksi massa tersebut.

Akan tetapi, harapan menemukan gagasan yang berpihak pada ketidak setujuan aksi literalisasi Islam tersebut kandas karena ternyata Tuhan Tidak Perlu Dibela kebanyakan menceritakan tanggapan Gus Dur terhadap berbagai keadaan, mulai dari sosial, politik, budaya hingga sekelumit keagamaan. Sepertinya buku yang adalah kumpulan kolom Gus Dur  yang pernah terbit di majalah Tempo antara tahun 1970 dan 1980 ini memang tidak dimaksudkan untuk menyampaikan gagasan Gus Dur tentang agama belaka.

Saya adalah orang yang tidak menyukai politik, enggan membaca tulisan tentang politik serta tidak mengikuti isu-isu politik secara aktif. Maka saya tidak punya bekal apa-apa dalam membaca kumpulan tulisan Gus Dur ini. Jelas ini membawa kesulitan tersendiri. Saya menjadi sering gagal paham dan sering tidak dapat menangkap poin yang hendak disampaikan Gus Dur dalam tulisan-tulisan itu. Kebanyakan ide tulisan terpantik dari pengalaman pribadi Gus Dur di berbagai tempat pada tahun-tahun tersebut.

Kendati demikian, bukan berarti bagi saya pribadi buku ini lantas menjadi tidak bermanfaat sama sekali. Sekurang-kurangnya, saya mendapatk gambaran tentang cara Gus Dur menyikapi pemerintah waktu itu (yang konon sangat otoriter dan enggan memberikan kebebasan berbicara). Barangkali telah lazim diketahui bahwa Gus Dur adalah sosok yang gemar meledakkan tawa orang lain melalui humornya yang khas. Namun cara budayawan yang kerap disandingkan dengan sosok Semar dalam pewayangan itu menyisipkan humor ke dalam tulisan, yang kemudian digunakan untuk mengkritik pemerintah waktu itu, boleh dibilang jenius.

Istilah “unthul-unthul” dalam tulisan berjudul “ORNOP Benarkah Untul-Untul?” , misalnya, masih sering membuat saya cengar-cengir sendirian. Pertama karena istilah “unthul-unthul” itu sendiri (yang digunakan untuk menyebut abdi-pelawak raja-raja Jawa zaman dulu) memang lucu. Kedua, menurut Gus Dur ORNOP (kependekan dari Organisasi Non-Pemerintah, sekaran lebih lazim disebut LSM) waktu itu dicurigai pemerintah karena pemerintah yang merancukan kata “non” dengan kata “anti”, sehingga pergerakan mereka menjadi sulit. Mengkaitkan antara ORNOP dengan unthul-unthul untuk mengkritik kecurigaan pemerintah yang terjadi waktu itu, adalah sebuah contoh pengejawantahan kejeniusan yang dimiliki Gus Dur. Maka kendati kesulitan membaca, saya tidak merasa sia-sia mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli buku Tuhan Tidak Perlu Dibela ini.


Saya heran dengan orang-orang yang berupaya memboikot Sari Roti, bagaimana bisa mereka berkesimpulan bahwa Sari Roti harus diboikot lantaran pengumuman atas ketidak terlibatannya dalam aksi demo besar tempo hari? Alur pikiran saya begini, mestinya pemilik perusahaan apa pun akan berupaya produknya punya pasar seluas mungkin. Khusus makanan, wajar jika pemilik perusahaan ingin jika makanan yang diproduksi perusahaannya dikonsumsi sebanyak mungkin, terlepas dari suku, agama dan ras konsumen.

Demo besar kemarin menunjukkan adanya "perpecahan" menjadi dua kubu, pro-demo dan menolak demo baik karena memang tidak berkenan atau berada di pihak yang bertentangan. Produsen makanan apa pun mestinya tidak ingin konsumennya banyak berkurang karena terbukti memihak salah satu kubu. Maka ketika muncul gambar yang seolah menandakan keterlibatan semacam itu, adalah wajar jika pihak perusahaan gusar lalu mengeluarkan pernyataan resmi bahwa perusahaannya tidak terlibat. Pernyataan itu sendiri diawali dengan apresiasi atas tindakan demo besar kemarin, artinya disusun dengan bahasa yang sopan. Akan tetapi, kubu pro-demo kemudian menganggap ini sebuah pembelaan atas kubu lawannya?

Maa kuntu mafhuman `an thoriqoti tafakkurikum, _haqiqotan...

NB : Alur berpikir di atas didasarkan pada praanggapan logis, bukan pada fakta eksperimental.


Jepang pra-1945 menampilkan wajah congkak kepada dunia, khususnya kepada Asia. Ini tidak lain karena Jepang ketika itu mempercayai mitos bahwa ia keturunan dewa, dan bahwa balatentaranya tidak terkalahkan. Tetapi, begitu dipukul kekalahan dalam bulan Agustus 1945, rakyat Jepang menyadari bahwa mereka harus menyadari nilai-nilai perdamaian, demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Sebagai hasilnya, mereka menjadi rendah hati.

Paragraf di atas dapat kita temui dalam buku berjudul "Masalalu Selalu Aktual" tulisan P. Swantoro dalam bab ketika ia menulis tentang Prof. Rokuro Hidaka dan pandangannya terhadap Jepang modern. Mungkin sebagian dari kita beranggapan bahwa keyakinan sekelompok orang bahwa mereka punya hubungan khusus dengan entitas transendental dan karenanya berhak mendominasi kelompok lain, adalah keyakinan yang konyol. Apalagi jika kemudian keyakinan tersebut terbantahkan dengan cara yang sangat memalukan.

Well, saya juga beranggapan seperti itu meski tidak secara spesifik merujuk kepada Jepang. Tapi bagaimanapun, saya harus mengacungkan jempol pada negara yang mendapat julukan "Tanah Tempat Matahari Terbit" tersebut. Pasalnya keyakinan yang mereka anut adalah hasil swadaya mereka sendiri. Setidaknya "keyakinan konyol" itu bukan produk impor.


Bahkan setelah game Assassin's Creed punya banyak sekuel, saya rasa Altair (Ath-Thoir) bin Laa Ahad (tokoh utama game pertama) adalah tokoh yang paling keren. Semboyannya, "Laa syai-a waqii`un muthlaqon bal kullun mumkinun" tidak hanya menjadi doktrin yang terkenal di antara para assasin sesudahnya, tapi juga menarik untuk direnungkan penonton.

Altair bin Laa Ahad
Arti kalimat tersebut adalah "Tidak ada sesuatu pun yang terjadi secara mutlak, tetapi semuanya mungkin". Ezio, assassin penerus Altair, menafsirkan kalimat tersebut sebagai berikut, setiap tindakan yang kita lakukan selalu membawa konsekuensi dan karenanya kita sendiri lah sosok yang membentuk masa depan. Dipikir-pikir saya penasaran juga, akankah ada yang memaknai ini sebagai upaya penafian terhadap Tuhan sebagai sosok dengan kekuasaan mutlak oleh pihak pembuat game. Pemaknaan semacam itu sangat mungkin muncul mengingat beberapa kejadian terkait isu agama yang mencuat akhir-akhir ini.

Assasin lazimnya mengenakan jubah bertudung yang menutupi sebagian wajahnya. Mungkin kostum Assassin dirancag demikian sehingga pemakainya tidak gampang dikenali. Senjata andalan mereka adalah bilah tajam yang dipasang di lengan bawah bersama gauntlet. Selain doktrin di atas, kostum dan senjata yang khas assassin memberikan kesan mengagumkan tersendiri bagi penonton sekaligus penikmat jalan cerita seperti saya.


Setelah melihat beberapa orang mengaitkan antara angka 212 dengan Q.S. 21:2 dan Q.S. 2:21, saya lantas berpikir. Angka 212 berarti tanggal 2 Desember menurut penanggalan masehi. Tapi bukankah penanggalan masehi, menurut catatan sejarah, adalah sistem penanggalan yang diciptakan bangsa mesir penyembah berhala, dikembangkan oleh orang-orang kerajaan Romawi lalu disempurnakan Paus Gregorius XIII pada abad keenam belas? Di sisi lain, sistem penanggalan khas Islam adalah sistem penanggalan yang didasarkan pada pergerakan bulan, atau dengan kata lain kalender hijriyah. Jadi dasar bagi pengaitan antara angka 212 dengan Q.S. 2:12 dan Q.S. 21:2 cukup rapuh.

Setelah mengecek lewat aplikasi, tanggal 2 Desember 2016 bertepatan dengan tanggal 2 Rabiul Awwal 1428 H. Rabiul Awwal adalah bulan ketiga dalam kalender hijriyah, dan karena terprovokasi oleh pengaitan itu maka secara iseng saya mengecek Q.S. 2:3 yang ternyata isinya (berdasarkan terjemahan dari Depag RI) sebagai berikut : "(Orang-orang bertaqwa)... Yaitu orang-orang yang beriman pada yang ghaib, melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka." Saya pun berhenti sebab tidak segera melihat adanya kaitan antara ayat dengan tanggal tersebut.

Mikir yang lain...


Akhirnya kubeli juga novel berjudul Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas setelah dibuat penasaran oleh isinya. Novel itu sudah sering kulihat di rak toko buku tapi waktu itu belum ada keinginan untuk membelinya. Baru ketika salah seorang teman di tempat kerja meminjamiku sebentar agar aku membaca beberapa paragraf di dalamnya, lalu tidak berkenan meminjamiku agar novel itu kubaca lebih jauh, keinginan semacam itu baru muncul.

Seingatku dia sendiri yang menunjukkan bahwa dia mempunyai buku itu padaku. Karena aku adalah orang yang sangat obsesif terhadap buku baru, maka aku langsung meminjamnya. Dia ragu-ragu, dan ketika dia menyerahkannya padaku dan kusambut novel itu, dia masih menahan tangannya sambil memeringatkanku bahwa bahasa yang digunakan untuk menulisnya adalah bahasa dewasa. Aku tertawa. Kukatakan padanya bahwa aku hanya dua puluh hari lebih muda darinya. Jika dia bisa membaca dari sudut pandang orang dewasa, aku juga pasti bisa. Lalu aku pun membaca paragraf pertamanya.
 
"Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati," kata Iwan Angsa sekali waktu perihal Ajo Kawir. Ia satu dari beberapa orang yang mengetahui kemaluan Ajo Kawir tak bisa berdiri. Ia pernah melihat kemaluan itu, seperti anak burung baru menetas, meringkuk kelaparan dan kedinginan. Kadang-kadang bisa memanjang, terutama di pagi hari ketika pemiliknya baru terbangun dari tidur, penuh dengan air kencing, tapi tetap tak bisa berdiri. Tak bisa mengeras.

Aku nyengir, kesan pertama yang muncul setelah membaca paragraf pertama novel itu adalah bagaimana bisa temanku yang seorang gadis anggun berjilbab lebar itu bisa mempunyai dan membacanya. Dengan tersipu dia mengatakan bahwa dia tidak sengaja membelinya. Aku terkikik.

Lebih jauh, aku lalu berpikir. Ini pertama kalinya aku menemukan novel yang ditulis menggunakan gaya bahasa selugas itu ketika penulisnya menceritakan kelamin dan segala aktivitas yang berkaitan dengannya. Fakta bahwa naskahnya lolos dan diterbitkan oleh penerbit ternama adalah bukti bahwa bahasa selugas itu, ternyata, bisa juga menjadi konsumsi khalayak. Ini adalah hal baru. Maka sejak si teman enggan meminjamkannya lagi, aku berniat untuk membeli sendiri...






Orator dalam video di atas menyampaikan keberatannya secara berapi-api tentang seorang dosen dari Universitas Islam Negeri Sunankalijaga, yang sebagaimana disebutkannya telah membaca Al-quran (Mushaf Usmani) di Istana Negara menggunakan langgam Jawa.

Alasannya adalah bahwa jika langgam Jawa diperbolehkan untuk membaca Al-quran, maka nanti (dikhawatirkan) akan muncul orang-orang yang membacanya dengan langgam dangdut atau jaipongan. Well, dengan melihat fakta bahwa dangdut sekarang diwarnai oleh penyanyi erotis berpakaian minim, wajar jika pembacaan Al-quran menggunakan langgam dangdut dianggap menodai kesuciannya. Perbuatan seperti itu adalah perbuatan kurang ajar dan pelakunya disetarakan dengan beberapa binatang yang juga disebut dalam video.

Terlepas dari kapan video tersebut direkam, mari kita pikir lebih jauh. Peristiwa pembacaan Al-quran di Istana Negara yang dimaki oleh orator dalam video itu baru menggunakan langgam Jawa. Setahu saya, langgam Jawa tidak atau belum tersentuh erotisme sebagaimana dangdut (atau mungkin jaipongan). Maka kekhawatiran akan munculnya pembacaan Al-quran dengan langgam dangdut sebenarnya adalah kehawatiran yang terlalu dini.

Kemudian jika pembacaan Al-quran dengan langgam dangdut mulai muncul, lalu masalahnya di mana? Yang memberi nilai sedemikian negatif pada dangdut adalah sebagian dari kita sendiri, yakni dengan ketidaksukaan kita pada tampilan penyanyi yang erotis dan berpakaian minim, bukan pada langgamnya. Jadi, kesimpulan bahwa pembacaan Al-quran menggunakan langgam dangdut pastilah diambil berdasarkan analisis yang dangkal atau terburu-buru, jika tidak dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk menjaga elemen "budaya asal tempat Islam lahir" terjaga.


Bertemu dengan orang baru di tempat kerja menjadi pengalaman yang sangat menarik ketika orang itu melakukan hal-hal yang menurutku tak biasa. Aku baru tiga kali bertemu dengannya dan baru kali ini, jumat malam ini, aku berbincang dengannya. Maka kukira wajar kalau namanya tak bisa kusebutkan karena aku lupa.

Perempuan itu sangat ekspresif, dia selalu memberi kesan 'wah' yang  untuk ukuran penggemar ekspresi datar sepertiku berlebihan. Dia punya penjelasan yang didasarkan pada pengalamannya sendiri perihal  kenapa dia menjadi begitu ekspresif padahal sebelumnya tidak seperti itu. Menurutnya, sikap ekspresif itu adalah cara khasnya untuk memberi kesan menyenangkan bagi orang lain. Jika kita menampakkan luapan kegembiraan yang ditampilkan oleh wajah ceria dan senyum, kata perempuan itu, maka orang lain akan 'diringankan'. Sebagai gantinya, kita lah yang akan diringankan di kemudian hari.

Perempuan itu memberi contoh, seorang manajer sebuah kafe mentraktirnya makan ketika ketepatan dia sedang tidak punya uang dan harus mengajar privat di kafe tersebut. Ketika dia meminta penjelasan, si manajer hanya mengatakan bahwa traktiran itu adalah ungkapan terima kasih padanya karena telah memberi bantuan di masa lalu.

Aku dan perempuan itu segera terlibat percakapan yang kalau dipikir-pikir aneh juga. Kami berbicara kesana-kemari, mulai dari pekerjaan perempuan itu sebelum bekerja di tempat yang sama denganku saat ini, pengalamannya lolos dari kanker otak dengan hanya berbekal pasrah yang kemudian menjadikannya konsultan kesehatan, proses studi lanjutannya ke luar negeri, akun media sosialnya yang aku tidak tahu apa itu, hingga ke anggapannya bahwa gunung adalah makhluk hidup.

Aku pun menolak anggapan tersebut berdasarkan ingatanku (yang sudah cukup kabur) tentang definisi "kehidupan" hasil usulan Lee Smolin dalam bukunya The Life of The Cosmos. Menurut Smolin, galaksi tidak bisa dikategorikan sebagai makhluk hidup karena tidak menggandakan diri, aku ingat betul bagian itu. Maka kutolak anggapan perempuan itu dengan menanyakan secara retoris, apakah gunung beranak pinak atau tidak. Bantahnya, gunung bisa beranak pinak, contohnya adalah gunung Krakatau.

Menurut perempuan itu juga, gunung pun bergerak, karena sudah jelas dalam Al-quran disebutkan bahwa memang begitu keadaannya. Kalau sudah bawa-bawa Mushaf Usmani seperti itu, tanggapan saya hanya senyum dan tiga patah kata, "Ya... Ya... Ya...". Tambahnya lagi, gunung juga punya jenis kelamin. Merapi berjenis kelamin laki-laki.

Percakapan kami terhenti oleh kedatangan tiga siswa yang harus dia ajar secara privat. Dia sekarang sedang mengajari mereka bertiga bahasa Inggris, dan aku masih tidak percaya ada menusia nyata yang seperti itu, sempat bertemu dan bercakap-cakap denganku sehingga membuatku merasa ingin menuliskan kisah ini. Aneh? Ayo kita tertawa saja...


Membaca buku-buku fisika populer kadang membawa kepuasan tersendiri. Ketika sebuah teorema dipaparkan dengan kata-kata belaka, tanpa simbol-simbol matematis yang rumit, tapi nyatanya itu berhasil menjelaskan gagasan pokok si pencetus teorema dengan gamblang, lalu kita bisa memahaminya setelah melakukan beberapa upaya, maka saat itulah kepuasan khas tersebut muncul. Kali ini aku membaca buku karya Lee Smolin yang judulnya The Life of The Cosmos dan mendapati sebuah teorema tentang lubang hitam.

Teorema tersebut menyatakan bahwa sebuah wilayah tertentu dalam ruang hanya dapat menampung informasi dalam jumlah yang terbatas. Batasan ini diberikan oleh entropi lubang hitam terbesar yang dapat dimuat oleh wilayah tersebut. Karena entropi lubang hitam sebanding dengan luasnya, maka jumlah maksimal informasi yang dapat ditampung oleh sebuah sistem sebanding dengan luas tapal batasnya.

Pembuktiannya demikian. Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa tidak ada proses termodinamis dalam sistem tertutup yang menurunkan entropi sistem tersebut. Andaikan di dalam sebuah wilayah dengan tapal batas yang telah ditentukan, ada suatu sistem yang bisa menampung informasi lebih banyak dari sembarang lubang hitam yang dapat dimuat oleh wilayah tersebut. Kita lalu dapat terus menambah energi sistem sehingga sistem memadat dan menjadi lubang hitam. Berdasarkan pernyataan sebelumnya, proses perubahan sistem menjadi lubang hitam ini menurunkan entropinya, yang jelas bertentangan dengan hukum kedua termodinamika. Karena itu pengandaian salah dan terbukti bahwa jumlah maksimal entropi yang dapat ditampung oleh suatu sistem berukuran tertentu sebanding dengan luas area lubang hitam terbesar yang dapat ditampung sistem tersebut. Maka informasi yang dapat ditampungnya pun terbatas, sebab entropi adalah ukuran informasi.

Membaca adalah kegiatan yang menyenangkan ketika kita berhadapan dengan buku yang bagus, apalagi buku itu bercerita tentang pengetahuan perihal bidang yang kita sukai tapi belum kita kuasai.



Cara laba-laba pelompat (Habronattus Clypeatus) untuk memperoleh pasangan bukan hal yang unik di dunia binatang. Untuk menarik perhatian betinanya, pejantan spesies ini biasa melakukan gerakan-gerakan khusus. Ilmuwan telah mengembangkan gawai yang memanfaatkan sensor khusus untuk mengonversi gerakan yang ditampilkan si laba-laba menjadi suara. Mereka menemukan bahwa pejantan seolah sedang "bernyanyi" ketika melakukan gerakan menggetarkan perut dan mengangkat kaki depan.

Nyanyian tersebut bernada mendominasi dan mempunyai tiga corak yang bergantung dari jarak antara pejantan dan betina. Jika nyanyian berhasil, maka si pejantan akan mendapatkan si betina sebagai pasangan untuk berhubungan seksual. Jika tidak berhasil, pejantan mungkin ditendang jauh sebab tubuh betinanya tiga kali lebih besar. Uniknya, memutuskan untuk menjadi jomblo seumur hidup bukan pilihan yang baik untuk laba-laba pelompat (Habronattus Clypeatus) jantan, sebab betinanya kanibal. Tidak ingin berpasangan berarti secara harfiah siap menjadi mangsa bagi betinanya.

Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=y7qMqAgCqME


Fisikawan abad ke-18 Pierre-Simon, Marquis de Laplace pernah menulis buku berjudul Mekanika Benda-Benda Langit (Mechanique Celeste) yang di dalamnya dia menjelaskan pergerakan benda-benda langit dengan berpijak pada landasan fisis hasil rumusan Newton pada periode sebelumnya. Menurut Laplace, konsekuensi dari fisika newtonan adalah determinisme. Jika kita hendak memrediksikan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi (atau telah terjadi), kita cukup tahu posisi dan momentum setiap partikel yang ada di alam semesta pada suatu waktu. Jika suatu saat kecerdasan seperti itu ada, maka dalam bahasa Laplace, tidak ada yang tidak pasti baginya.

Kesimpulan ini memunculkan kisah tentang pertemuan antara Laplace dengan Napoleon. Kisah itu menyebutkan bahwa Jendral Perancis tersebut menanyakan kenapa Laplace tidak menyertakan Tuhan dalam buku tentang alam semesta yang telah ditulisnya. Laplace kemudian menjawab bahwa dia tidak membutuhkan hipotesis semacam itu. Artinya, menurut Laplace tidak ada "sosok" di atas sana yang mengendalikan segala hal di alam semesta. Ini jelas merupakan tantangan bagi agamawan pada masa itu. Karena perannya yang mengancam keberadaan konsep tuhan, "kecerdasan" yang disinggung Laplace itu kemudian disebut dengan Iblis Laplace (Laplace's Demon).

Pierre-Simon, Marquis de Laplace (1749-1827) adalah matematikawan dan fisikawan berkebangsaan Perancis yang banyak menyumbangkan gagasan pada kalkulus interal, kalkulus diferensial serta astronomi.
Hari ini kita mempunyai fisika baru yang belum ada pada masa hidup Laplace, yaitu fisika kuantum. Dengan berpegang pada fisika kuantum yang salah satu pernyataan terkenal di dalamnya mengatakan bahwa kita tidak mungkin mengetahui posisi dan momentum partikel secara bersamaan sekaligus seratus persen akurat, kita dapat menyimpulkan bahwa Iblis Laplace tidak akan pernah ada.

Kendati demikian, sebenarnya gagasan tentang Iblis Laplace menimbulkan masalah serius dalam dirinya sendiri. Andaikan kita dapat membangun sebuah mesin yang mampu mencatat atau merekam posisi dan momentum setiap partikel di alam semesta berikut menghitung posisinya pada sembarang waktu berdasarkan fisika newtonian.

Mesin tersebut boleh menyimpan informasi dalam bentuk apapun, catatan di atas kertas, batu tulis bahkan hardisk raksasa. Akan tetapi dalam kaitannya dengan peran untuk meniadakan "agen luar yang ikut campur dalam cara alam semesta bekerja", mesin tersebut harus merupakan bagian dari alam semesta juga. Di sinilah letak kesulitannya, sebab mesin tersebut harus mampu mencatat setiap posisi dan momentum partikelnya sendiri. Dengan kata lain, mesin yang mampu memerikan dirinya sendiri di samping seluruh benda entitas fisis lain di alam semesta. Sulit kiranya membayangkan adanya mesin seperti itu, maka wajarlah jika kita ucapkan sayang sekali Iblis Laplace tidak pernah dapat mewujud.


Malam minggu, jones tapi tidak homeless dan jobless, serta punya keinginan kuat untuk menulis. Aku mencari-cari bahan curhat di otakku, dan ketemu. Leonard Susskind, fisikawan teoretik, dalam sebuah kuliah "Mekanika Kuantum"-nya, pernah mengatakan bahwa dia lebih menyukai mekanika kuantum daripada mekanika klasik karena dalam beberapa hal mekania kuantum memberikan kejelasan yang tidak diberikan oleh mekanika klasik.

Aku sempat merenungi makna di balik ucapan dosen di Universitas Standford itu. Apa saja "beberapa hal" itu? Tentu saja aku juga belajar mekanika kuantum di bangku kuliah, tapi butuh perenungan yang jauh untuk menemukan "beberapa hal" yang dimaksud Pak Susskind.

Hari terakhir aku membaca buku teks tentang mekanika kuantum adalah hari ketika malamnya adalah malam minggu ketika aku merasa menjadi jones tapi tidak homeless maupun jobless, hari ini. Maka kuputuskan untuk benar-benar menulis gagasan itu dengan bahasaku sendiri. Bahasa yang tidak kaku. Bahasa yang disastra-sastrakan meskipun tidak sastrawi dan sedikit banyak mengorbankan kejelasan konsep.

Oke. Kembali ke pokok bahasan. Kuduga, salah satu aspek paling jelas ketika mekanika kuantum "berani beda" dari mekanika klasik adalah ketika keduanya mengusung masalah pengukuran. Menurut gagasan yang mendarah daging dalam fisika klasik (sampai abad kedua puluh), pada prinsipnya, masalah pengukuran hanya masalah kecanggihan alat. Misalnya, jika kita tidak dapat melihat hal-hal yang cukup kecil, kita "cukup membuat" kaca pembesar. Ada obyek-obyek yang lebih kecil lagi, kita buat kaca pembesar yang lebih canggih lagi. Begitu seterusnya, tidak ada batasan bagi seberapa kecil obyek yang kita lihat tanpa menimbulkan masalah serius, asalkan kita menyumbangkan dana yang cukup untuk membangun alat yang lebih canggih. Bahasa ringkasnya, untuk mekanika klasik, mengukur hanyalah mengukur.

Sebenarnya, kita harus berhati-hati dalam mengucapkan kata "pengukuran". Ketika kita mengukur sesuatu, panjang pensil menggungakan penggaris misalnya, yang kita maksudkan sebenarnya adalah menyandingkan pensil itu dengan penggaris kita. Saat itu cahaya menumbuk ujung-ujung pensil berikut skala pada penggaris dan memantul ke mata kita sehingga kita melihat pensil itu mempunyai panjang sebesar x. Fokus pada kalimat "cahaya menumbuk ujung-ujung pensil berikut skala pada penggaris". Rupanya, mengukur tidak hanya sekadar mengukur. Pengukuran adalah proses yang melibatkan interaksi fisis, dan dalam mekanika kuantum interaksi itu "sangat" mengganggu.

Bayangkan lagi, ketika kita melihat orang mengendarai sepeda motor berikut pergerakannya, sebenarnya yang terjadi adalah cahaya menumbuk pengendara tersebut lalu memantul mengenai mata kita. Pengendara motor, tentu saja, mempunyai bobot yang lumayan besar sedemikian rupa sehingga interaksinya dengan cahaya tidak mengganggu proses "melihat" tadi. Akan tetapi jika pengendara motor itu diganti dengan elektron, lain ceritanya. Elektron sangat-sangat ringan sehingga jika ia tertimpa cahaya, "jalan"-nya akan benar-benar terganggu. Momen setelah gangguan itu tidak terprediksi. Di sinilah letak titik perbedaan antara mekanika kuantum dari mekanika klasik...

Nah, aku sudah dapat bahan yang cukup untuk kupubikasikan di blog. Cerita tentang kuantumya sekian dulu. Tertarik untuk mendengar cerita lebih jauh, pm!


Membaca tiga potong kicau Goenawan Mohamad tentang kritik Bung Karno masalah penggunaan fikih untuk melakukan tindakan tercela, yaitu :

Yang mengejutkan, pada tahun 1940, Bung Karno juga sebut praktik kawin siri (nikah cuma buat semalam) dengan para pelacur di satu kota Jawa-Barat
Ada penghulu yang siap menikahkan pelanggan dan pelacurnya, dan esoknya talak dijatuhkan. Ini, kata Bung Karno, "Main kikebu dengan Tuhan."
"Main kikebu" atau cilukba dengan Tuhan, itulah sebutan Bung Karno tentang orang yang menggunakan fikih untuk membenarkan laku yang cela.

dalam buku "Percikan : Kumpulan Twitter @gm_gm" halaman 202-203, imajinasiku melayang. Aku benar-benar membayangkan adanya jasa yang menyediakan layanan prostitusi tetapi lewat jalan "syar'i". Kata "syar'i" yang kumaksudkan di sini adalah dalam kaitannya dengan fikih.

Misalkan benar-benar ada jasa prostitusi yang juga menyediakan penghulu, pramuria sebagai mempelai perempuan, saksi, komplit dengan wali yang entah bagaimana bisa dibujuk untuk menyetujui anaknya menjadi pramuria dengan cara seperti itu, pokoknya syarat dan rukunnya lengkap, lalu bagaimana? Apa yang menjadi ganjalan bagi penyedia jasa prostitusi syariah seperti itu untuk ada? Harus kutekankan bahwa aku tidak tahu banyak tentang fikih (dan tidak suka juga meskipun kolom agama di KTP-ku berisi kata "Islam", tapi ini soal lain).

Setahuku fikih hanya menghukumi suatu pekerjaan berdasarkan rukun dan syarat pekerjaan itu. Dalam Islam, menikah adalah sangat dianjurkan. Bahkan, konon orang yang tidak meikah justru tidak terpuji. Lalu ketika orang ingin "menikah untuk semalam" saja, dengan rukun dan syarat yang lengkap, bukankah secara fikhiyah tidak masalah? Sedangkan jika ada larangan dan anggapan bahwa tindakan tersebut tercela, bukankah ini bersumber dari moral si pencela? Dengan kata lain, larangan itu tidak bersumber dari fikih.

Kadangkala, dalam fikih kita mendapati perbuatan yang dalam kesadaran moral kita salah, berubah menjadi tidak bermasalah. Misalnya, seorang anak sulung dihadiahi sebidang tanah berikut rumah dan kebun oleh bapaknya semasa hidup. Lalu ketika meninggal, pemberian itu tidak dihitung warisan, sehingga peninggalan si bapak yang tersisa harus dibagi menurut ketentuang yang berlaku menurut faraid (ilmu tentang tata cara membagi warisan dalam Islam). Ada juga beberapa hal yang tidak diperbolehkan menurut seorang ahli fikih, tapi dianggap sebagai "tercela" oleh yang lain, dan diperbolehkan untuk yang lain lagi. Untuk yang ini, kulit seorang laki-laki bersinggungan langsung dengan kulit perempuan setelah berwudu lalu laki-laki itu salat tanpa berwudu lagi. Jadi, "menikah dalam semalam" itu termasuk yang mana? Ingat, pertimbangan moral (apalagi yang tidak berasal dari Arab abad ketujuh masehi) tidak dimasukkan dalam penilaian suatu perbuatan menurut fikih.

Terakhir, andaikan prostitusi syariah itu benar-benar ada, maka alangkah beruntung para muslim yang kaya yang berkeinginan untuk berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual. Ada legalisasi dari agamanya untuk melakukan itu, sehingga paling tidak dia dan semua pihak yang membantunya tidak terkena beban psikologis akibat  ketakutan pada dosa berzina dan semua konsekuensinya meskipun dilihat dari bentuk perbuatannya sama saja.


Seorang teman tiba-tiba duduk di dekatku pada jarak sekitar dua meter untuk sebuah keperluan yang sudah kulupakan. Dia menyambar gitar yang ternyata rusak dan tidak bisa dimainkan, lalu terlihat mengelus-elus dagu. "Bro, cukur jenggot yang bagus gimana (di mana) ya? Jenggotku kurang terawat nih," celetuknya. Kulihat, dagunya memang ditumbuhi beberapa helai janggut. Tidak lebat tapi cukup panjang, sehingga kesannya tidak terawat.

"Dicukur habis saja, Mas. Pakai pisau cukur yang biasa," kutawarkan sebuah solusi.

"Wah, jangan Bro. Ini bidadari bergelayutan di sini."

Tanpa sengaja, aku bereaksi dengan meringis dan mengulang kata-katanya dengan nada mengejek. "Bidadariii???" Lalu aku diam dan buru-buru mengalihkan pembicaraan. Aku mungkin sudah menyinggung perasaannya meski tak bermaksud mengejek. Sesuatu yang sebenarnya kupikirkan adalah kenyataan bahwa temanku itu sudah punya seorang istri yang menurutku cantik. Tepat saat aku mengucapkan kata "bidadari" yang terakhir itu otakku menanyakan apakah bidadari masih berharga bagi seorang muslim yang telah mempunyai seorang istri dengan wajah menawan.

Beberapa waktu setelah itu aku merenung sendiri. Apakah sesuatu yang belum pasti, yaitu bidadari (_huur) yang dalam Islam dijanjikan untuk orang-orang saleh di surga nanti masih berharga ketika kita sudah punya istri? Tentunya istri kita adalah perempuan nyata yang sudah kita pilih dengan hati-hati yang telah kita pilih dengan sebaik-baiknya untuk menjadi pendamping sehidup semati. Mungkin ada landasan biologis yang menyatakan bahwa laki-laki cenderung untuk menyebarkan bibitnya sebanyak mungkin, dan karenanya lebih lazim laki-laki menginginkan banyak perempuan daripada perempuan menginginkan banyak laki-laki. Tapi ini di luar konteks. Muslim masuk surga tidak membawa jasad duniawi.

Adapun bidadari dalam Islam adalah makhluk Tuhan yang berwujud perempuan berdada besar dan bermata indah serta diciptakan dari cahaya khusus untuk menemani orang-orang Islam di surga nanti. Tidak hanya itu, bidadari juga selalu perawan, legal untuk disenggamai sepuas hati serta punya daya pikat yang luar biasa. Dikatakan bahwa seorang yang beradu pandang dengan makhluk bernama bidadari ini tidak akan berkedip empat puluh tahun lamanya karena terlalu terpesonanya (belum adegan ranjang yang lebih jauh dari itu). Bahkan, dari kisah yang lain dikatakan setiap muslim diberi tujuh puluh dua bidadari.

Percaya tidak percaya, muslim terpaksa harus percaya kendati ini absurd. Aku sih senang saja. Agamaku Islam, dan aku laki-laki (perempuan di surga tidak dapat fasilitas serupa). Masalahnya adalah, mitos tentang perempuan yang sempurna untuk disenggamai sebagai hadiah bagi orang-orang yang pandai menahan diri dari menggoda anak orang akan sangat mungkin muncul (atau dimunculkan) untuk mengatur masyarakat yang kaum laki-lakinya gila seks! Bagaimana kalau konsep tentang bidadari ini, walau pun tercantum dalam Al-quran dan Hadits, dimaksudkan untuk mengatur orang-orang yang gila seks supaya tidak mengganggu anak orang? Entahlah.

Secara pribadi tentu saja aku punya hasrat seksual, tapi tidak sedemikian parah sampai membayangkan adanya pelayanan seksual dari tujuh puluh dua perempuan yang tubuhnya sangat menawan dan selalu perawan seperti itu. Lagipula ketika kalau pun aku sudah punya istri, aku ingin konsisten dengan satu orang saja. Yah, meskipun tidak ada jaminan bahwa aku lantas tidak menginginkan yang lain. Maksudku, andai aku punya kemampuan untuk mengendalikan proses-proses biologis dalam tubuhku sendiri, aku lebih memilih mengarahkannya untuk tertarik ke satu perempuan saja daripada mengatur agar dapat menarik perempuan sebanyak-banyakya. Nah, kalian laki-laki muslim yang lain bagaimana?


Nama Y. B. Mangunwijaya bukannya tidak pernah saya dengar, hanya saja saya belum pernah menyempatkan diri untuk membaca cerpen-cerpennya. Malam ini adalah kedua kalinya saya berkunjung ke FKY (Festival Kesenian Yogyakarta) ke-28 yang diselenggarakan di Taman Kuliner Condong Catur Yogyakarta, dan pertama kalinya memasuki bilik sastra. Saya mendengarkan pembacaan cerpen yang judulnya saya lupa, tapi cerpen tersebut mengisahkan tentang seorang lelaki tulen bernama Baridin dengan pekerjaan berkesan "miringnya" yaitu mengamen dengan dandanan perempuan.

Saya katakan pembacaan cerpen itu bagus, tapi sebatas karena saya menghargai mbak pembaca cerpen. Saya bukan seorang yang tahu tentang seni membaca cerpen. Akan tetapi terlepas dari itu, cerpennya sendiri mampu mengaduk-aduk perasaan. Jika cerpen-cerpen Kuntowijoyo membidik "realitas" yang terjadi dalam masyarakat (mungkin untuk membendung mulut-mulut yang matanya hanya melihat buku dan tidak melihat keadaan yang sebenarnya terjadi di lapangan) dari sudut pandang agama tanpa menggurui, maka cerpen yang mengisahkan Baridin ini sama sekali tidak memuat hal-hal berbau formalitas agama tertentu, tapi langsung memaparkan situasi tertentu.

Tokoh Baridin yang seorang pemuda berkulit hitam (laki-laki tulen) tapi harus menyulap dirinya menjadi sosok secantik mungkin, di samping harus menerima ejekan dan olok-olok orang yang tidak suka, hanya untuk mendapatkan uang dua ribu rupiah. Mestinya ada manusia yang mirip Baridin dalam cerpen Y.B. Mangunwijaya itu, dan saya langsung membayangkan satu di antara beberapa pengamen (laki-laki berpakaian seperti perempuan) yang biasa saya lihat di perempatan kota Jogja adalah sosok nyata dari tokoh fiktif Baridin.

Adalah menarik untuk menelaah keadaan seperti ini lebih jauh. Misalkan orang-orang seperti Baridin benar-benar ada, kita menganggap keberadaannya sebagai sebuah masalah sosial dalam masyarakat kita. Satu di antara beberapa pertanyaan yang bisa kita tanyakan adalah, bagaimana tanggapan orang-orang dari sudut pandangan agama terhadap sosok seperti Baridin?

Nah, terlepas dari itu semua. Saya harus mengacungkan jempol untuk cerpen yang dibaca malam hari ini.


Empat eksemplar "Teruntuk Mentari dan Rembulan"

Bagi saya ada kepuasan tersendiri ketika saya berhasil menyelesaikan naskah antologi puisi berjudul "Teruntuk Mentari dan Rembulan" ini, apalagi ketika ia saya terbitkan (atas bantuan penerbit Beebook Publisher) dan akhirya versi cetak antologi tersebut sampai ke tangan. Ini adalah antologi pertama saya, dan buku kedua saya setelah novel The Jadzab Boy (Diva Press, 2012).

Saya memang hobi menulis, tapi jarang-jarang tulisan saya mengejawantah menjadi sebuah buku. Terlebih lagi dalam bidang sastra, saya baru belajar menulis puisi awal Juni 2016. Meskipun begitu, ketekunan yang dipacu oleh keinginan mendapat perhatian dari bribikan (hehehe) berhasil membuat saya mengumpulkan sejumlah sajak dan puisi.

Ketika saya membaca karya sendiri, saya tidak terlalu bisa menikmati tulisan sebanyak saya menikmati karya orang lain. Membaca tulisan sendiri itu seperti membaca tulisan setelah terkena megaspoiler. Saya juga merasa membaca tulisan sajak-sajak sendiri itu seperti membaca jurnal perjalanan. Bagaimana tulisan kita bervolusi dari berbagai sisi seperti diksi, tema yang diangkat dan sebagainya.

Yah, apapun dan bagaimanapun itu, saya tetap sudah menelurkan sebuah karya lagi. Selain harus disyukuri, fakta itu juga menjadi batu pijakan bagi saya untuk maju lebih jauh lagi dengan menelurkan karya-karya berikutnya.


Aku sedang menyeduh kopi yang airnya baru saja kudidihkan menggunakan api kompor gas. Dua gelas berisi sesendok gula dan dua sendok kopi tubruk di depanku menganga. Mereka seolah tak sabar menungguku menuang air panas. Currr! Currr! Kutuangi juga keduanya. Kopi tubruk yang bersentuhan dengan air bersuhu seratus derajat Celcius itu segera bereaksi. Ia menerbangkan aroma khasnya bersama uap yang membumbung ke udara. Setelah kuaduk tiga belas kali dengan arah adukan yang berlawanan dengan arah jarum jam, keduanya pun kubawa ke ruang tengah.

Penghujung bulan Agustus, tentunya tanah Jawa sedang diliputi kemarau. Wajar jika dinginnya udara pagi ini sampai menusuk tulang. Menjelang subuh, sepertinya makhluk yang sudah membuka matanya baru aku dan bapakku di ruang tengah.

"Sudah kamu aduk tiga belas kali, putar ke kiri?" tanya bapak.
"Sudah, Pak."
"Bagus."

Kami berdua pun meminumnya menggunakan lepek. Benda itu susah dicari padanan katanya dalam Bahasa Indonesia, bentuknya seperti piring kecil dan mungkin kalau di kota besar biasanya digunakan untuk tempat sajian gorengan. Aku dan bapakku biasa menggunakan lepek itu untuk meminum kopi. Kami menuangkan kopi kami ke dalamnya hingga hampir penuh. Satu lepek penuh kira-kira sama dengan sepertiga gelas. Fungsi lepek adalah untuk mendinginkan kopi dengan cepat, agar lidah dan tenggorokan kami dapat bersentuhan dengan minuman berwarna hitam itu sebanyak mungkin dalam waktu singkat.

Aku tidak pernah menggunakan air yang dipanaskan dalam dispenser atau yang sudah disimpan dalam termos untuk beberapa lama. Kurang panas. "Air untuk menyeduh kopi harus benar-benar mendidih, tapi untuk benar-benar menikmatinya kita juga harus mengurangi panasnya dengan segera. Pakai ini," papar bapak sambil menunjuk ke lepek-nya. Benda berbahan keramik yang berwarna putih itu mengkilat oleh tusukan cahaya lampu neon.

...

Sekarang aku berusia tiga belas tahun, dan ini tahun enam puluhan. Pagi buta memang sedang menebarkan gigilnya di tanah Jawa penghujung bulan Agustus ini. Dunia masih diselimuti kegelapan, tapi bapak sudah membangunkanku. Hanya aku. Ibu yang biasanya memasak belum bangun, pun juga tidak dibangunkan. Ini masih terlalu pagi untuk menyalakan api dan memasak, tapi bapak sudah membangunkanku. Hanya aku.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan mengikuti ajakan bapak yang lalu berjalan menuju dapur. Bapak mengambil sebuah kaleng bekas yang bagian atasnya sudah dibuang dan tepiannya dipasangi kawat. Benda itu menjadi lebih mirip dengan ember daripada kaleng, tapi ukurannya sangat kecil. Kalau diisi air, mungkin akan sama dengan banyaknya air yang diisikan ke dalam dua buah cangkir.

Bapak mencopot beberapa bagian dinding dapur rumah kami. Ya, dinding. Tahun enam puluhan, rata-rata dinding rumah di desa terbuat dari anyaman bambu. Hal ini tentu saja mencerminkan rendahnya tingkat ekonomi masyarakat di desa era ini. Akan tetapi siapa pun yang pernah merasakan pengalaman tinggal di rumah berdinding anyaman bambu dan bata lalu membandingkan keduanya, maka ada sisi postitif yang bisa diambil dari rumah pertama. Dinding yang terbuat dari anyaman bambu memberi kesempatan yang lebih bebas bagi udara untuk menerobos masuk, jadi sepanas apapun siang hari terasa sejuk. Gantinya, malam hari menjadi sangat dingin.

Pagi buta yang gelap ini aku baru bisa menggunakan sebelah mataku, yang sebelah kanan. Sedangkan mata sebelah kiri masih buram. Biasanya segera hilang kalau diucek-ucek. Gedebuk! Aku terantuk sebuah peralatan dapur, entah apa.

"Sssst! Jangan berisik. Nanti ibumu bangun. Ini Bapak bikinkan kopi. Bahan bakar apinya Bapak ambil dari dinding dapur. Dindingnya jadi berlubang. Nanti kalau ibumu tanya, bilang saja kalau lubang di dapur ini dibuat kucing atau tikus besar yang ingin memaksa masuk."

Kuanggukkan kepalaku tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Di bawah penerangan api tungku berbahan bakar anyaman bambu yang nyalanya semakin redup itu kuperhatikan baik-baik cara bapak menyeduh dan mengaduk kopi. "Tiga belas kali, putar ke kiri," batinku sesaat sebelum menikmatinya menggunakan lepek, bersama bapak, di dapur rumah yang kian diliput kegelapan.


Aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa di masa depan aku akan melakukan hal serupa dengan salah seorang anak laki-lakiku.

...

Sekarang tahun 2016, aku tidak tinggal bersama dengan bapak lagi, tapi di sebuah rumah kontrakan di kota. Pagi buta di penghujung Agustus, masih di tanah Jawa, aku menancapkan ujung seutas kabel ke colokan listrik, ujung yang lainnya sudah menancap ke heater. Tidak ada dapur yang gelap. Aku bahkan tidak perlu pergi ke dapur, hanya beranjak satu meter dari tempatku tidur untuk memasak air. Kuseduh kopiku menggunakan air yang sudah benar-benar mendidih lewat bantuan heater, lalu kuaduk tiga belas kali berlawanan arah dengan arah jarum jam. Kutuang sepertiga bagian kopiku ke lepek dan kukipasi tiga kali menggunakan tangan kanan sebelum kuteguk cepat-cepat.

Sayang sekali, aku sedang tidak bersama bapak. Aku juga masih bujang, jadi tidak ada anak lelaki yang bisa kubangunkan dan kuajak menikmati kopi dengan cara khas nan turun-temurun ini. Kubayangkan bapak di kampung sedang melakukan aktivitas serupa dan membayangkan hal serupa pula.



Bagaimana mungkin seseorang 
memiliki keinginan untuk mengurai kembali 
benang yang tak terkirakan jumlahnya 
dalam selembar sapu tangan 
yang telah ditenunnya sendiri...

Hujan Bulan Juni adalah novel karya pak Sapardi Djoko Damono yang kabarnya berasal dari sebuah buku puisi berjudul sama. Dalam novel tersebut pak Sapardi mencoba menyerang perbedaan suku, budaya dan agama yang kerap dijadikan sumber konflik. Saya menangkap pesan penyair kelahiran Solo itu adalah untuk move on dari upaya membikin tabu hubungan lelaki dan perempuan yang nyatanya berbeda suku, budaya dan agama.

Hujan Bulan Juni berkisah tentang Sarwono, seorang antropolog, dosen muda FISIP-UI yang sedang menjalin hubungan cinta-kasih bersama seorang gadis muda keturunan Menado-Jawa, Pingkan namanya. Sarwono sendiri Jawa tulen, dia muslim dan berasal dari keluarga yang agak - agak abangan, sementara Pingkan beragama Katolik. Pingkan yang sudah menjadi asisten dosen di Prodi Jepang dan tersebut mendapat tugas ke Jepang untuk beberapa lama.

Latar yang diambil dalam Hujan Bulan Juni adalah seputar Jakarta-Solo-Minahasa, dan waktunya dari ketika Pingkan mendapat tugas ke Jepang itu sampai beberapa bulan ia di sana. Selain masalah perbedaan suku, budaya dan agama novel tersebut juga menampilkan sosok Katsuo sebagai orang yang keberadaannya mengancam hubungan antara Sarwono dan Pingkan.

Hujan Bulan Juni menyiratkan bahwa novel yang bagus tidak harus tebal. Serta novel yang berkisah tentang cinta-kasih tidak harus ditulis oleh anak - anak muda penggila roman. Pak Sapardi dapat menggambarkan hubungan lelaki dan perempuan yang saling menyukai satu sama lain dengan sangat baik, meskipun suasana masa muda pria yang lahir tahun 1940 itu jelas berbeda dari Sarwono. Memang, hubungan tokoh Sarwono dengan Pingkan terasa "kurang muda" kalau dibandingkan dengan novel - novel roman remaja, tapi ini berhasil ditutupi dengan latar belakang keduanya sebagai dosen dan asisten dosen. Jadi bukan remaja lagi, tapi juga tidak terlalu tua.

Meskipun begitu, di samping kepiawaian pak Sapardi membangun latar, saya pribadi merasa kurang puas dengan hadirnya Katsuo. Sosok orang Jepang itu tidak punya banyak peran yang membangun konflik dalam cerita. Ancamannya pada hubungan Sarwono-Pingkan kurang terasa karena tidak banyak digambarkan kecuali hanya sebagai dosen muda di Universitas Kyoto yang sewaktu mengenyam pendidikan tingkat master (di Indonesia) adalah seorang mahasiswa populer karena suka mentraktir teman - temannya, menyukai Pingkan dan pernah dekat dengan gadis blasteran Menado-Jawa itu.


Bagi seorang penggemar Bleach yang juga menyukai puisi, rasanya ada kesan tersendiri ketika ia mengapresiasi "mantra yang harus dirapal" untuk mengeluarkan Kidou (baik Hadou maupun Bakudou). Adalah menarik untuk membandingkan Hadou no. 90 dan 91 dari segala sisi, baik peletakannya dalam cerita, tokoh - tokoh yang mampu mengeluarkannya hingga mantranya.

Hadou no. 90 dikuasai oleh Sousuke Aizen sang antagonis utama Bleach dari awal hingga episode 310, dan pernah dikeluarkan sekali dalam bentuk yang belum sempurna dalam upayanya melakukan pengkhianatan pada Gotei 13 pada peristiwa eksekusi Rukia. Begitu Aizen mendapat hollowfikasi sempurna berkat bola Hougyoku, Hadou 90 bisa dikeluarkan dengan kekuatan penuh.


Aizen mencoba mengurung Ichigo menggunakan Kurohitsugi.

Hadou no. 90 sendiri mempunyai nama Kurohitsugi (Peti Mati Hitam), ketika dilepaskan ia mengurung target dengan pelat - pelat hitam yang menempel berurutan ke atas sehingga membentuk kubus raksasa, kemudian menusuk apapun yang terkurung dengan palang - palang berbahan serupa. Menurut Aizen, Kurohitsugi adalah pengejawantahan "semburan gravitasi yang mampu membengkokkan ruangwaktu itu sendiri".

Sebagai Kidou tingkat 90-an, wajar jika Kubo menyusun mantra yang cukup panjang untuk Kurohitsugi. Setelah saya terjemahkan secara bebas (dari bahasa Inggris) dan saya ubah sedikit untuk mengatur rima, mantranya berbunyi :


Mahkota huru-hara gelombang pasca-badai
Kapal kegilaan tumbuh tanpa kendali

Mereka mendidih
mereka memberontak,
mereka mati rasa,
mereka mengerjap,
mereka merintangi lelap

Sang putra besi merayap
Si boneka lumpur senantiasa melenyap

Menyatulah!
Berontaklah!
Jadilah sesak oleh tanah,
tahulah akan ketidakberdayaanmu!

Sedangkan Hadou no. 91 digunakan oleh Kisuke Urahara untuk menyerang Aizen ketika hollofikasinya belum sempurna, dan meskipun telah didahului dengan Kuyou Shibari (Sembilan Matahari) yang fungsinya untuk mengunci sasaran dan menggandakan kekuatan serangan, tidak berefek apa - apa (tapi pada adegan berikutnya ditunjukkan bahwa sebenarnya serangan ini disusupi kidou lain bertipe segel, dan bekerja dengan baik).

Urahara menembakkan Senjuu Kouten Taihou ke arah Aizen setelah merapal mantranya.

Wujud Hadou no. 91 yang bernama Senjuu Kouten Taihou (saya terjemahkan sebagai Meriam Cahaya Avalokitesvara) adalah tiga belas buah peluru berwarna ungu berbentuk seperti komet yang langsung menuju sasaran begitu dilepaskan. Adapun mantranya, saya terjemahkan secara bebas sebagai berikut :

Pada cakrawala Avalokitesvara 
Engkau tangan - tangan agung yang tak pernah menyentuh kegelapan
Engkau pemanah dari surga yang tak menangkap pantulan
Jalan yang bermandikan cahaya, angin yang mengobarkan bara, jangan ragu! Ikuti perintah jemariku!
Peluru cahaya
Delapan raga
Sembilan pusaka
Sutra surga
Harta karun petaka
Roda perkasa
Kelabu pagoda
Ketika kulepaskan anak panah ini, menghamburlah pada sasaranmu nun jauh di sana!

Lebih jauh, jika kita membandingkan kata - kata dalam kedua mantra, kita bisa melihat adanya unsur - unsur kebalikan. Misalnya, Senjuu menggunakan pepujian dengan bahasa a la kitab suci, objek - objek yang disebut juga seputar langit seperti cakrawala, cahaya dll. Sementara Kurohitsugi terkesan memberi kutukan dan menyebut beberapa objek seputar bumi, seperti tanah, besi, lumpur dan sebagainya.

Selain itu, Aizen dan Urahara adalah mantan - mantan kapten di Gotei 13 yang meskipun bukan rival tapi layak untuk dipertandingkan dalam sebuah pertarungan. Keduanya sama - sama mempunyai kekuatan dan kecerdasan yang unik dibanding tokoh manapun di Gotei 13. Belakangan, keduanya diberi predikat oleh Van Der Reich sebagai dua dari "Lima Potensial Perang", sampai - sampai moyang para Quincy itu mengadakan "kunjungan pribadi" untuk Aizen yang ditahan di penjara guna mengajaknya menginvasi Seireitei dan melanjutkan kembali ambisinya yang sempat gagal, tapi ajakan itu ditolak.


Bersamamu,
rembulan tak pernah terbit
bintang - bintang tak pernah hilang
lautan tak surut-pasang.

Bersamamu,
aku seperti rumput yang menari karena angin.
Langit tak pernah bermendung, tak ada hujan,
hanya tiang - tiang putih menyala di kejauhan.

Bersamamu,
gemerlap dunia jauh dari pelupuk mata
hilang semua di cakrawala.

Bersamamu,
si kuncup tak menolak mekar.
kelopak - kelopaknya tak pernah gugur.

Bersamamu,
tanah - tanah basah tak lagi kurindui,
berpasang mata indah tak lebih berharga dari senja
kelapa gading kubiarkan meninggi.

Bersamamu,
Andai saja aku tidak sedang bermimpi.