twitter


Pernahkah anda menyaksikan film “Predestination”? Film tersebut bercerita tentang perjalanan seorang penjelajah waktu yang cerita secara keseluruhan dapat diringkas sebagai berikut :

Seorang bayi perempuan ditemukan di depan sebuah panti asuhan dan dibesarkan di sana. Pemilik panti asuhan memberinya nama “Jane”. Jane tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas dan bertubuh kuat layaknya laki – laki, tetapi dianggap berkepribadian aneh sehingga tidak ada seorang laki – laki pun yang mau bersamanya. Suatu malam, Jane bertemu pria asing yang secara aneh dapat membaca pikirannya. Mereka berdua merasa saling cocok sampai singkat cerita melakukan hubungan seksual sehingga Jane mengandung. Kendati demikian, identitas si pria masih misterius. Suatu malam, pria itu berkata pada Jane bahwa ia hendak meninggalkannya sebentar, tetapi kenyataannya, Jane kehilangan dia selamanya. Pria itu menghilang secara misterius semisterius identitasnya.

Berbulan – bulan kemudian, Jane melahirkan anak hasil hubungannya dengan pria misterius itu di sebuah rumah sakit. Pasca kelahiran bayinya, dokter memberitahu Jane bahwa dia mempunyai kelainan kelamin. Rahimnya harus diangkat akibat kelahiran bayi tersebut, tetapi dia mempunyai cikal bakal kelamin laki – laki dalam tubuhnya. Karena Jane masih muda, ada kemungkinan bahwa cikal bakal itu tumbuh menjadi kelamin  laki – laki sungguhan, dan dia bisa melanjutkan hidupnya sebagai seorang laki – laki. Karena tidak punya pilihan lain, maka Jane menerima tawaran sang dokter untuk berganti kelamin. Keseluruhan proses memakan waktu beberapa bulan.

Di tengah proses itu bayi yang dilahirkan Jane diculik orang, dan apapun upaya yang telah dia lakukan untuk menemukannya berbuah kegagalan. Dalam keadaan frustasi itu, Jane yang sudah menjadi laki - laki pindah ke Kota New York dan mengubah namanya menjadi “John”.

John mulai minum – minum di bar untuk meredam frustasinya. Suatu malam, John bertaruh untuk mendapatkan sebotol bir secara gratis dari bartender di bar itu jika dia bisa menceritakan suatu kisah yang dapat membuat si bartender terkesan. John kemudian mengatakan bahwa ia ingin sekali membunuh pria misterius yang sudah membuatnya menderita itu. Jadi ia terima tawaran si bartender yang kemudian mengajaknya menembus ruang-waktu, kembali ke tempat pertemuan John ketika masih menjadi Jane dan bertemu dengan si pria misterius.

Bartender itu ternyata seorang penjelajah waktu dari masa depan yang menjalankan suatu misi, yakni mencegah seorang teroris bergelar “Fizzle Bomber” untuk melakukan aksinya. Setelah memberi John sepucuk revolver sebagai senjata, si Bartender lalu meninggalkan John untuk beberapa lama, ia menembus ruangwaktu untuk kembali ke misinya, menggagalkan si teroris. Sayangnya si bartender gagal, dia hanya menemukan seseorang dengan luka bakar, hendak menggapai – gapai sebuah benda. Karena amat mengenali orang yang terbakar itu, dia lalu menyerahkan benda yang hendak digapainya, dan pergi dengan keterkejutan.

Di sisi lain, John tidak menemukan pria misterius yang ingin dibunuhnya sejak awal. Dia justru bertemu dengan Jane, dirinya di masa lampau ketika masih menjadi seorang perempuan tulen. John tahu bahwa Jane dianggap aneh dan tidak pernah mendapatkan cinta laki – laki. Pada akhirnya John mencintai Jane dan setelah berkencan, keduanya melakukan hubungan seksual yang berujung pada hamilnya Jane.

Si Bartender baru menampakkan batang hidungnya lagi ke ruangwaktu yang tidak jauh setelah itu. Ketika John dan Jane duduk berdua di bawah sebuah pohon, dia memberi isyarat pada John agar menemuinya tanpa sepengetahuan Jane. John kemudian mengatakan pada Jane bahwa dia akan pergi sebentar. Tahulah John bahwa pria misterius yang hendak dibunuhnya itu adalah dirinya sendiri yang pergi ke masa lalu. Bartender mengatakan bahwa John bisa membuat pilihan untuk menembak dirinya sendiri saat itu, tapi tidak dilakukan.

Si Bartender menyesali pilihan John itu, ia lalu menembus ruangwaktu, menculik bayi yang dilahirkan oleh Jane, kembali ke masa lalu dan menaruhnya di depan pintu panti asuhan. Ternyata bayi Jane itu adalah calon Jane dan John.

Sementara itu, alih – alih membunuh dirinya sendiri John justru menerima tawaran kedua Si Bartender, yakni untuk menggantikannya menjadi agen rahasia penjelajah waktu. Tugas utama Agen John adalah untuk menghentikan kejahatan sebelum terjadi. Pada misi ke sekian kali, Agen John gagal menghentikan bom yang hendak meledak. Bom itu sudah dimasukkan ke dalam koper khusus sehingga ledakannya tidak mengakibatkan kerusakan besar, tetapi naasnya wajah dan sebagian besar bagian tubuh Agen John terbakar.

Dalam keadaan sekarat, Agen John menggapai – gapai mesin waktu yang biasa dia gunakan untuk menjelajah. Saat itu ia melihat Si Bartender yang kemudian menyelamatkannya dengan cara mendekatkan mesin waktu itu sehingga terjangkau oleh Agen John sebelum akhirnya dia pergi dengan wajah terkejut. Agen John mengerahkan sisa kesadarannya untuk menembus waktu, kembali ke kantor tempat dia bekerja sebagai agen rahasia dan mendapat pertolongan. Singkat cerita, luka bakarnya sembuh, tetapi wajahnya harus dicangkok sehingga dia mendapat wajah baru.

Sembuh totalnya Agen John membuat atasannya menugaskannya kembali, untuk yang terakhir kali. Agen John diharuskan kembali ke masa lalu untuk menghentikan pengeboman yang dilakukan Fizzle Bomber.  Dia harus menyamar menjadi seorang bartender di sebuah bar. Dari situlah dia kemudian bertemu dengan John, dirinya yang berasal dari masa lalu. Setelah mendengar cerita naas John, Agen John merasa iba dan menawari John untuk membunuh pria yang telah menghancurkan hidupnya. Jadi bartender itu adalah John dari masa depan yang lebih jauh.

Adapun Si Bartender yang pensiun itu, memilih ruang dan waktu di “dekat” peristiwa pengeboman yang dilakukan “Fizzle Bomber” untuk menikmati masa pensiunnya. Dia lalu merasa ada sesuatu yang tidak beres. Mesin waktunya gagal dinonaktifkan, artinya status agen rahasia masih dia sandang. Setelah meneliti beberapa berkas mengenai pengeboman yang menjadi kasusnya, dia menyadari bahwa salah satu tempat yang menjadi lokasi pengeboman di masa depan, saat itu belum dibom. Jadi Bartender memutuskan untuk pergi ke sana dan menemukan pelakunya.

Benar saja, di lokasi tersebut Fizzle Bomber sedang duduk. Rupanya dia sudah tua, dan yang paling mengejutkan adalah bahwa Fizzle Bomber itu adalah Si Bartender yang sudah tua. Dia mengatakan bahwa dirinya melakukan beberapa aksi terorisme untuk menyelamatkan banyak nyawa. Bomber menunjukkan bukti klipping koran dari masa depan yang tidak pernah terjadi karena sudah dia cegah dengan aksi bomnya. Terakhir, dia mengatakan bahwa untuk menjadi dirinya, Si Bartender harus membunuhnya, tetapi itu tidak harus dilakukan. Mendekati akhir cerita, Si Bartender menembakkan beberapa peluru dari revolvernya untuk mengakhiri hidup Fizzle Bomber.

...

Awalnya saya mengira bahwa alur film “Predestination” ini dapat digunakan sebagai pendekatan untuk menyelesaikan masalah paradoks perjalanan menembus waktu, yakni jika seorang anak pergi ke masa lalu dan membunuh orang tuanya sebelum ia lahir. Untuk membunuh orang tuanya sendiri sebelum ia lahir, anak itu harus kembali ke masa lalu. Sementara untuk kembali ke masa lalu dia harus lahir terlebih dahulu. Akan tetapi dia belum sempat lahir karena orang tuanya dibunuh lebih dulu, dan seterusnya. Di sinilah letak paradoksnya.

Di sisi lain, film tersebut bercerita tentang satu orang yang mengalami lingkaran sejarah tanpa putus. Seseorang yang berganti kelamin dari perempuan menjadi laki – laki, kembali ke masa alalu untuk berhubungan seksual dengan dirinya sendiri sewaktu masih perempuan hingga perempuan itu mengandung dan melahirkan bayi yang ternyata adalah dirinya sendiri.

Hal ini tentu menyangkal perkiraan awal saya. Alur film ini tidaklah menyelesaikan masalah paradoks perjalanan menembus waktu, tapi justru merupakan salah satu pengejawantahan paradoks tersebut, bahkan ceritanya jauh lebih rumit daripada “seorang anak yang kembali ke masa lalu untuk membunuh orang tuanya sebelum dia dilahirkan”. Bagi pengetahuan fisika yang ada sekarang, kejadian sebagaimana kisah hidup Jane adalah sesuatu yang mustahil. Bukan karena kejadian itu belum terjelaskan oleh konsep – konsep yang ada, melainkan kejadian itu sendiri adalah paradoks. Susah membayangkan kisah hidup Jane menjadi sesuatu yang nyata, menggunakan teknologi masa depan yang canggih sekalipun. Fizzle Bomber ada karena bayi Jane ada, tapi Bayi Jane ada karena adanya Fizzle bomber.

Pertanyaannya adalah, bagaimana bayi Jane (atau Fizzle Bomber) yang pertama kali ada? Jika saja pertanyaan seperti itu bermakna...

Jane.
John dan Bartender bertemu "untuk yang pertama kalinya".
Bartender menyelamatkan Agen John.
Jane dan John.

Bartender membawa bayi Jane ke sebuah panti asuhan.

Fizzle Bomber.

4 komentar:

  1. mesin waktu itu tidak ada, jika kita ingin perjalanan waktu maka kita harus bisa berjalan 2 x lipat kecepatan cahaya... dari dulu sampai tahun 2015 benda tercepat yang pernah di buat manusia adalah (Helios probe 247.500 km/jam) itu pun masih jauh dari kecepatan cahaya. jadi impossible lah....

  1. Saya juga percaya bahwa mesin waktu tidak akan pernah dibuat manusia. Tetapi argumen anda kurang kokoh :
    1. Syarat "2 x lipat kecepatan cahaya" itu mestinya diperoleh dari relativitas khusus. Di sisi lain, secara teoretis orang dapat menembus waktu menggunakan lubang cacing (dari teori relativitas umum).
    2. Anda mengatakan kecepatan maksimal wahana yang pernah dibuat manusia sampai tahun 2015 adalah 247.000 km/jam. Kalaupun pernyataan ini benar, tidak menutup kemungkinan bahwa batas kecepatan tersebut akan meningkat hingga mencapai kecepatan yang dibutuhkan pada tahun - tahun mendatang...

  1. sungguh menakjubka

  1. Hm...

Posting Komentar

Monggo komentar...