twitter


Suatu ketika, saya sedang mengoreksi beberapa buah laporan praktikum rapat massa. Saya mendapati beberapa praktikan menuliskan definisi rapat massa suatu benda sebagai perbandingan antara massa dan volume benda tersebut. Saya pun termenung, sepertinya ada kejanggalan dalam kalimat tersebut. Akhirnya saya melingkari kata "perbandingan" itu dengan pena bertinta merah.

Beberapa waktu kemudian, saya baru menemukan kesalahan dalam tulisan itu. Akar permasalahannya, menurut saya, ada pada simbol matematika yang biasa digunakan untuk menyatakan pembagian. Yakni "/". Simbol tersebut, sekali - sekali juga digunakan untuk menyatakan perbandingan antara dua buah objek matematis.

Dalam bentuk persamaan matematis, rapat massa suatu benda dapat ditulis sebagai m/V. Dengan, m mewakili massa dan V mewakili volume benda tersebut. Masalahnya adalah, meskipun kita dapat menotasikan pembagian dan perbandingan dengan lambang yang sama, "/", tetapi untuk melakukan yang sebaliknya perlu kehati - hatian.

Artinya, ketika simbol "/" muncul dalam sebuah persamaan matematis (yang menggambarkan relasi objek - objek fisis) tidak bisa langsung diartikan sebagai perbandingan -atau pembagian- secara sembarangan. Keduanya  berbeda, meskipun batas yang memisahkan perbedaan tersebut agak kabur.

Dalam kasus definisi rapat massa, tanda "/" tidak bisa diartikan sebagai "perbandingan". Alasannya, rapat massa merupakan besaran tunggal yang tersusun atas dua besaran lain, yakni massa dan volume. Dalam konsep rapat massa, dimensi massa dan volume bergabung menjadi satu dimensi baru. Sementara "perbandingan", digunakan untuk menaksir kuantitas fisis (besaran fisika) dari suatu objek relatif terhadap kuantitas fisis objek lain yang lebih familiar.

Mungkin ini dimaksudkan untuk menggambarkan nilai kuantitas fisis itu dengan lebih sederhana. Ambil massa jenis relatif sebagai contoh. Massa jenis relatif didefinisikan sebagai perbandingan antara rapat massa objek tertentu dengan rapat massa air. Tentu saja, rapat massa relatif sekadar bilangan murni, alias tak bersatuan.

Well, sekarang saya jadi tahu letak kesalahan kalimat dalam laporan tersebut.

(Sedikit ucapan terima kasih buat mas Ludwig Wittgenstein :D ...)


(Based on True Story :))

Ini adalah kali ketiga aku sit in di mata kuliah TMK (Teori Medan Kuantum). Peserta aslinya sebelas mahasiswa, tapi yang masuk saat itu ada delapan belas. Jadi selain aku, ada enam orang lagi yang sit in. Dilihat dari segi wajahnya, mereka kelihatan relatif tua. Maklum, mereka anak – anak S2.

Salah satu kelebihan kuliah bareng anak – anak S2 itu adalah suasananya yang damai. Satu – satunya orang yang mengeluarkan suara adalah pak dosen, atau mahasiswa ketika sedang bertanya. Tidak ada yang nyambi smsan, buka FB atau bahkan chattingan. Mereka hanya berbisik, nyaris tanpa suara jika ingin berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya. Itupun jarang terjadi.

Dengan mata kepalaku sendiri aku melihat, hampir semua mahasiswa dalam kelas itu punya buku referensi yang dijadikan bahan kuliah oleh pak dosen. Mereka tidak merasa keberatan membawanya untuk dibahas bersama di kelas. Mahasiswa yang duduk tepat disamping kananku bahkan memenuhi buku teksnya dengan coretan, yakni keterangan pak dosen.

Satu mahasiswa lain membiarkan netbooknya dalam keadaan menyala, bukan untuk log in di jejaring sosial melainkan melihat ebook yang tengah di bahas. Barangkali menurutnya ebook lebih praktis daripada buku cetak setebal tujuh ratusan halaman itu. Aku bisa berkata begitu karena aku sering melihat ke arah netbook itu, dan yang kulihat di layarnya selalu halaman buku yang sedang dibahas. Kebetulan aku duduk di tempat yang paling belakang. Jadi, udah saja melihat apa yang dilakukan mahasiswa itu dengan netbooknya, tanpa mengganggu konsetrasiku sendiri tentunya.

Aku yakin para peserta kuliah TMK berasal dari wilayah yang berbeda – beda, tapi ketika berada dalam ruang kuliah itu mereka menggunakan aturan yang sama. Yakni mengupayakan kondisi setenang mungkin untuk belajar. Itulah yang membuatku berkali – kali mengulum senyum, kagum. Barangkali faktor usia juga mempengaruhi, faktanya mereka bukan ababil lagi. Ya, boleh jadi begitu. Aku pernah mengikuti kelas lain yang pesertanya baru lulus SMA, dan sangat gaduh.

Semua paham? Kupikir tidak juga. Hanya satu mahasiswa yang kelihatan bisa menangkap keterangan pak dosen dengan baik. Mahasiswa ini berambut jabrik, duduk paling depan dan hanya bersedekap ketika teman – temannya sibuk mencatat. Uniknya, ketika pak dosen menyuruhnya ke depan untuk menurunkan sebuah persamaan di papan tulis, ia bisa melakukannya.

Beberapa menunjukkan wajah bosan, ada juga yang sampai mengantuk. Namun aku salut karena mereka tidak mengusir rasa bosan dan kantuk itu dengan membuat forum pembicaraan sendiri. Keluar untuk “mencari angin” pun tidak.

Aku heran, bagaimana “mas jabrik” itu nampak bisa mencerna semuanya dengan mudah. Padahal yang diajarkan dalam kuliah itu teori njekek. Aku sendiri merasa sangat asing, meskipun penjelasan tentang TMK versi populer sudah sering kubaca.

“Psi-star-L, gamma-nol, matriks ini tereduksi karena… hidup di ruang spinor… setelah meninjau partikel dalam kerangka acuan diam, kita akan meninjau partikel itu dalam kerangka acuan yang bergerak ke depan, karenanya kita harus memilih transformasi boost ke belakang…” Apaan sih itu semua?

Yah, meskipun belum bisa memahaminya sekarang namun pengetahuan tentang TMK itu sangat menarik. Tapi yang terpenting, aku bisa duduk dalam kelas yang para pesertanya tahu sopan santun pada dosen seperti itu saja aku sudah sangat senang.


"Ini aneh nggak?" tanya dosen fisika kuantum saya setelah membaca sekilas apa yang tertulis dalam bahan kuliahnya. Saat itu materi yang disajikan adalah seputar percobaan - percobaan yang mempertanyakan keabsahan fisika klasik. Dan kami sampai pada diskusi tentang percobaan yang dilakukan oleh Arthur Holy Compton. Saya pun berpikir mengenai keanehan percobaan Compton itu, hingga ide untuk menulis tulisan ini meletik.

Sebelum itu, seyogyanya dipaparkan dulu mengenai percobaan yang di maksudkan. A. H. Compton menemukan bahwa seberkas gelombang elektromagnetik yang ditembakkan pada sebuah atom, akan berinteraksi dengan, katakanlah, salah satu elektron. Si elektron lalu terpental keluar dari orbit, sementara gelombang itu  terbelokkan dan kehilangan sebagian energinya. Dengan kata lain terjadi pertukaran energi antara gelombang dan elektron.

Skema penemuan Arthur H. Compton

Energi gelombang pasca tumbukan yang bergantung pada sudut hamburan itu menjadi cerita aneh tersediri. Tapi keanehan yang hendak didiskusikan di sini adalah kemampuan gelombang untuk "menendang" partikel (dalam hal ini elektron) hingga terpental relatif jauh.

Mempercayai fenomena ini seperti mempercayai cerita berikut : Sebuah bola terapung - apung di tepi laut, tepat saat gelombang tsunami terlihat dari ke jauhan sedang menuju pantai. Namun ketika gelombang tsunami itu mencapai tempat di mana bola terapung, seketika ia berubah menjadi ombak biasa sementara bola itu terbang ke langit.

Memang, hukum kekekalan energi tidak dilanggar. Tetapi cerita itu sangat tidak masuk akal menurut pengalaman sehari - hari.


Dul Karim menerima pesan emergency, ia harus mengirim sejumlah uang ke rekening saudaranya yang tengah berada di ambang kehancuran finansial. Nominalnya memang tidak banyak, tapi si saudara sangat membutuhkan uang itu secepat mungkin. Sementara hanya Dul Karim yang bisa dimintai bantuan. Jadi, mau tidak mau dia jugalah yang turun tangan.

Sebenarnya Dul karim malas pergi ke bank. Dia sama sekali asing dengan teknologi seperti transfer, belum lagi mesin ATM yang bisa mengeluarkan uang itu. Bukannya Dul Karim tidak tahu apa – apa, hanya dia tidak biasa berurusan dengan hal – hal yang berbau ‘kemajuan zaman’. Lagipula dia sangat bangga menjadi generasi terakhir dari manusia - manusia konservatif (baca : kuno bin ndeso lawan gaptek). Menurut Dul Karim, sementara manusia modern terbuai dengan modernitas, orang – orang konservatif justru mampu melihat kehancuran sistem yang dapat ditimbulkan oleh modernitas itu sendiri. Tentu ini terjadi jika modernitas tidak disikapi secara benar.

Sesampainya di depan pintu bank, Dul Karim mencoba masuk tetapi selalu gagal. Pintu yang ditariknya macet. Seharusnya dia mendorong, bukan menarik. Tapi sticker bertuliskan “dorong” yang biasanya ditempel di gagang pintu itu telah sobek sehingga tidak terbaca lagi. Selain itu satpam penjaga juga tidak ada, mungkin sedang mengecek nasabah yang lain.

Dul Karim pun menunggu beberapa saat di depan pintu. “Aneh sekali manusia modern itu. mereka membuat pintu yang susah untuk dibuka. Aku yakin ini dilakukan agar mereka tidak gampang kemalingan. Tapi bukankah dengan begitu mereka juga akan susah keluar masuk?”

Ketika salah seorang nasabah keluar dan menarik gagang pintu (dari dalam) dengan lembut, barulah Dul Karim tahu bagaimana cara kerja pintu yang dibuat oleh manusia modern itu. Maka dia pun bergegas masuk. Bersamaan dengan masuknya Dul Karim, pak satpam pun muncul. Tak mau salah lagi, Dul Karim lantas bertanya pada pak satpam mengenai cara mentransfer uang dan segala propertinya sampai selesai.

Sayangnya si satpam adalah tipe orang yang pelit informasi, dia hanya menyuruh Dul Karim untuk mengisi slipt yang tertumpuk di dekat pintu masuk. Terang saja, Dul Karim hanya mengambil slipt yang dimaksud lalu memandanginya. Ia bisa membaca, setidaknya ia dapat mengisi beberapa kolom dalam slipt itu kalau saja dia tidak ragu. Tapi dalam otak Dul Karim telah terprogram “kalau tidak tahu mending tanya”.

Dipanggilnya pak satpam berkulit hitam itu lagi, dan dia pun mendekat. “Bagaimana cara mengisi ‘formulir pengiriman uang’ ini pak Satpam?” tanya Dul Karim tanpa malu – malu.

Pak satpam tersenyum simpul tanda mengejek.

Dul Karim pun berbicara keras setengah berteriak agar seluruh penghuni bank mendengarnya. “Kamu jangan tersenyum begitu. Ketidaktahuan orang – orang sepertiku tentang bank ini adalah bukti kurangnya sosialisasi. Bank-mu tidak pernah mengadakan penyuluhan pada warga kampung yang masih gaptek. Jadi wajar saja kalau tanganku ragu – ragu menulis di kertas ini.”

Dul Karim terus saja mengoceh, membiarkan pak Satpam terpaku mendengarkan omongannya. Dia tak peduli pada orang – orang sekitar yang menatapnya tajam.

“Fakta bahwa SDM penduduk negara ini masih minim dapat dipangkas dengan sosialisasi. Memang butuh dana besar, tapi tidak masalah guna untuk mendapatkan masa depan yang cerah…”

Sampai beberapa menit, barulah Dul Karim mengakhiri kalimatnya. “Kamu, pak satpam, adalah bagian dari mereka yang merasa bangga menjadi orang modern. Yaitu mereka yang sedikit tahu tentang modernitas tapi sudah merasa tahu banyak, sehingga menuduh saudara – saudaranya yang masih awam sebagai orang ndeso. Padahal selain ditandai dengan kemajuan teknologi yang pesat, modernitas yang kalian banggakan itu juga bercirikan kebobrokan moral yang hanya membawa kehancuran global.”





Sumur tua di ujung desa itu mengundang berbagai pertanyaan dalam benakku. Sejak kapan ia dibangun? Apa yang ada di dalamnya jika kita masuk? Dan mengapa ada cekungan tanah yang berkelok – kelok dan berujung sumur itu?

Kata nenekku yang ahli mendongeng cerita – cerita seram, sumur itu dulunya adalah ular raksasa yang bersembunyi sekaligus bertapa di tempat itu. Mulutnya selalu siap memangsa siapa saja yang lewat di sampingnya. Korban terus berjatuhan sampai suatu ketika seorang petapa sakti mengutuk ular ganas itu. Tapi ular itu berdalih bahwa ia hanya memangsa orang yang jahat saja. Dan karena ia tidak merasa bersalah, maka ia menaruh dendam pada sang petapa. “Anak cucumu akan menanggung perbuatanmu ini.” Begitu yang dikatakan ular sakti itu sebelum berubah, tubuhnya menjadi lekukan di tanah semacam bekas parit, sedangkan mulutnya menganga berubah menjadi sumur itu. Makanya sang petapa lalu berpesan agar anak cucunya jangan ada yang mendekati sumur jelmaan ular itu.

Tapi aku sendiri bukan anak kecil yang mudah dibohongi dengan cerita – cerita aneh semacam itu. Aku tidak percaya, mana ada ular sebesar itu dan berpikir untuk bertapa. Sampai berbicara dengan manusia lagi. Ini sangat konyol!!!

Memang, beberapa waktu lalu salah seorang penduduk di desa ini mengilang tanpa sebab. Dan dua hari kemudian jenazahnya ditemukan sudah membusuk dalam sumur itu. Tapi ini tidak membuktikan apapun, karena aku sering melongok ke dalam sumur itu dan tidak terjadi apa – apa. Bisa diperkirakan kalau cerita aneh itu dimunculkan untuk menakut – nakuti anak kecil supaya tidak bermain – main di dekat situ. Benar, semua masuk akal. Tapi kalau cerita itu salah, benarnya bagaimana?

Aku terus bertanya pada diriku sendiri, sampai suatu ketika guru sejarahku menyinggung tentang penjajahan Belanda dan aku mendapat sebuah gambaran. Sepulang sekolah, kutanyakan pada kakekku apakah desa “Antaboga” ini pernah menjadi wilayah yang dijajah oleh Belanda seratus tahun silam. Beliau membenarkan. Dan saat kutanyakan apakah penjajah itu ada hubungannya dengan sumur tua itu, kakekku bercerita apa yang sebenarnya.

“Desa Antaboga ini sebenarnya tidak dijajah Belanda secara langsung, tapi penduduknya ikut perang. Waktu itu sudah lama sekali, aku yang baru berumur lima belas tahun sudah ikut merebut negara ini dari cengkeraman penjajah. Nah, sumur itu adalah pintu masuk dari jalan rahasia yang dibangun para pejuang untuk bersembunyi. Lubangnya dibuat dalam sekali, sehingga orang yang melihat dari atas akan menyangka kalau itu sumur tak berdasar. Tapi tak jauh dari mulutnya ada lubang ke samping yang panjang. Itulah jalan rahasianya.” Kakekku menjelaskan dengan gamblang.

“Kenapa sekarang tertutup kek?” tanyaku penasaran.

“Itu akibat bom yang dijatuhkan sekutu saat perang terakhir dulu. Banyak pejuang yang besembunyi di dalam lubang itu terkubur hidup – hidup. Saat itu kakek sedang perang di tempat lain, jadi selamat dari bom itu. Yah, mereka adalah kawan – kawan kaek yang gugur demi membela Negara Indonesia ini,” kenang kakekku, rupanya itu membuatnya sedih dan mulai meneteskan air mata. Akupun jadi salah tingkah, karena pertanyaanku kakek jadi sedih.

“Cucuku, kamu yang hidup di zaman merdeka dan murah pangan ini harus banyak – banyak bersyukur. Kamu harus belajar dan mencapai cita – cita setinggi langit, agar pengorbanan para pejuang di masa lampau tidak sia – sia.”

“Baik kek. Serahkan saja semua pada saya,” kataku mantab.


Dua minggu yang lalu Kang Mat Maut meninggal gantung diri di pohon asem di samping rumahnya. Kabarnya, ia tak kuat menanggung hutangnya pada Pak Bakil yang rentenir kelas kakap itu. Masa hutang hanya dua juta yang nunggak hingga lima bulan saja harus kehilangan tanah, rumah dan perabotannya. Itu karena Pak Bakil memanfaatkan sifat buta huruf Kang Mat Maut untuk membuat surat pernyataan yang isinya menjadikan rumah sebagai jaminan. Apabila hutang Kang mat Maut berikut bunganya belum lunas dalam waktu lima bulan maka Pak Bakil berhak merampas rumah Kang mat maut, lengkap dengan perabotannya. Begitu isi surat pernyataan itu.

Dan, entah karena para penuduk lupa melepas tali pocong Kang Mat Maut atau apa, ia bangkit dari kubur setelah tujuh hari kematiannya dan menghantui siapapun yang pernah menyakiti hatinya. Yang bersangkutan terutama Pak Bakil dikejar – kejar tiap malam. Meskipun lari mereka lebih cepat dari lompatan pocong itu, namun mereka tetap tidak nyaman.

Malam ini, jantung pak Bakil berdetak kencang. Keringat dingin sebesar biji jangung yang merembes dari sekujur tubuhnya membuatnya seperti habis mandi. Ia bersembunyi di kolong tempat tempat tidurnya yang terbuat dari spons super empuk itu. Matanya tak lepas dari ambang pintu, mengawasi setiap gerak di sana. Jangan – jangan pocong itu nyelonong masuk tanpa permisi.

Lama sekali Pak Bakil tak berkedip, tapi tak ada tanda – tanda pocong itu masuk. Ia merasa lega, nafasnya yang tertahan tanpa sadar itu membuatanya tersengal – sengal saat ia kembali normal. Ia berguling ke kanan, dari posisis miring ke posisi terlentang.

Ba! Kang Mat Maut sudah terbaring di sampingnya. Mata dan hidung  itu tertutup oleh kapas, wajah itu pucat pasi, dan pakaiannya adalah kain kafan kotor yang penuh lumpur. Spontan Pak Bakil memekik keras, lalu tak sadarkan diri.



Keesokan harinya Pak Bakil bertandang ke rumah dukun kondang Ki dhedhel Semelekete untuk meminta bantuan. Kekondangan dukun sakti ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Ia kesohor lewat layanan primbon selulernya. Ketik REG [spasi] dhedhel [spasi] NOMOR SEPATU [spasi] UKURAN CELANA kirim ke 0987, untuk mendapatkan ramalan jodoh, karir, keuangan serta kesehatan hari ini dengan tingkat akurasi 100%. (Wao!)

“Pocong itu matre, sebab ia lahir pada bulan agustus tanggal dua puluh, Leo,” jelas Ki dhedhel sebelum Pak Bakil mengutarakan uneg – unegnya.

“Tapi Ki, kedatangan saya kemari bukan untuk meramal status Mat Maut yang sekarang jadi arwah penasaran itu. Melainkan untuk memusnahkannya untuk selama – lamanya supaya tidak mengganggu saya terus,” ucap Pak Bakil dengan mengepalkan tangannya. Geram.

“Sampeyan betul angger Bakil. Tapi untuk memecahkan masalah apapun itu bentuknya, kita harus membedelnya dulu. Perlu dijelaskan sejelas – jelasnya. Paham sampeyan?” tegas paranormal itu dengan nada kalem sekalem aliran air.

Pak Bakil hanya mengrenyitkan dahi. Ia tak habis pikir dengan apa yang ada dalam kepala ki Dedel. Lha wong masalah sebesar itu kok dia tenang – tenang saja, sepertinya sepele sekali.

“Jadi, karena dia matre saya harus memberinya uang barang satu rupiah begitu? Emoh Ki! Mendingan saya dihantui setiap malam daripada harus kehilangan uang saya untuknya,” tolak Pak Bakil setengah mencak – mencak. Selain terkenal sebagai rentenir, Pak Bakil juga terkenal sebagai orang paling kikir di desanya. Bahkan, kalau ada olimpiade orang terkikir sejagad mungkin dialah yang akan menyabet tropi platina.

“Bukan begitu, goblok!” bentak Ki dhedhel Semelekete sembari meberikan jitakan mulus tepat di ubun – ubun Pak Bakil. Tangan kanannya yang dipenuhi batu akik, desain yang sangat cocok untuk menjitak kepala seorang Pak Bakil. “Maksud saya matre itu materialis, durung bisa moksa kanthi sampurna. Badan wadagnya masih belum sepenuhnya lepas dari arwahnya. Itulah kenapa dia selalu kalah lari dengan sampeyan saat sampeyan kabur,” imbuhnya.

“Lalu, saya harus bagaimana Ki?” tanya Pak Bakil sambil memegangi kepalanya, meringis kesakitan.

“Sekarang angger Bakil pulang saja dulu, nanti sore saya menyusul. Kita tangkap pocong itu bersama – sama, tepat tengah malam nanti!” tegas Ki dhedhel di sela batuknya.

“Kalau begitu saya pulang dulu Ki.” Pak bakil mohon diri buru – buru, takut kena jitakan lagi. Atau yang lebih buruk dari itu, santet.

Belum juga kaki Pak Bakil beranjak, Ki dhedhel Semelekete berdehem pertanda ada sesuatu yang kurang. Matanya menatap tajam, seolah mengikat Pak Bakil dengan kekuatan magis.

“Oh! maaf Ki Dedel, saya hampir lupa. Ini sekedar untuk beli rokok,” kata Pak Bakil dengan tergopoh – gopoh. Selanjutnya ia mengeluarkan amplop putih ukuran besar dari sakunya, nampaknya tebal. Dukun terkenal itu menerimanya dengan sesunging senyuman sinis yang membuat Pak Bakil bergidik ngeri dan segera mohon diri.

Dianggap pantas untuk membuka bungkusan, Ki dhedhel pun menyobek ujung amplop tebal itu. Ternyata isinya uang kertas kumal yang berjejalan, hampir seluruhnya bernilai nominal seribu. Ki dhedhel menggeram marah. Tapi tidak etis kalau dia tidak melayani pak Bakil lantaran sarahan-nya berupa uang receh. Itu menyalahi Undang – Undang Perdukunan pasal 28 ayat 1. Toh, kalau dihitung jumlahnya lumayan.



“Kita tunggu sampai tengah malam angger Bakil,” perintah Ki dhedhel dengan suara ngebas.

“Nggeh Ki,” Pak Bakil hanya menurut. Dia sudah pasrah bongkokan pada Ki dhedhel Semelekete.

Ki dhedhel dan Pak Bakil sekeluarga berkumpul di sebuah kamar di lantai dua rumahnya, interior gaya eropa klasik menghiasi ruangan itu. Dan itu dibeli dengan menggunakan uang jarahan Pak Bakil, uang yang didapatnya -entah dengan cara halal atau haram hukumnya di zaman sekarang ini- dari fakir miskin yang tertipu.

Jarum jam bandul di kamar atas itu hampir saling menindih dan menunjuk angka dua belas. Ki dhedhel segera duduk bersila menghadap jendela, ia melakukan persiapan kilat dengan membakar kemenyan dengan mulut komat – kamit, baca mantra. Sementara Pak Bakil yang bersembunyi di balik punggung Ki dhedhel waswas, ia seolah tahu kalau pocong Mat Maut bakal nongol dari depan.

Dan, prediksi Pak Bakil tepat. Asap putih mulai merembes keluar dari luar jendela dan sesegera mungkin memenuhi ruangan seolah kabut tipis di pagi buta. Brak! Jendela itu terbuka dengan paksa. Dan melompatlah sosok Mat Maut dari kepulan asap yang terus membanjiri ruangan itu. Sosok Mat Maut versi arwah penasaran, wajah pucat pasi bak terong rebus serta sorot mata dingin yang keluar dari timbunan kapas itu begitu menakutkan. Pak Bakil, Bu Bakil, serta anak semata wayang mereka Ibnu Jahlun, merinding seketika.

“Cepat! Keluar dan tunggu di bawah, di samping tangga,” perintah Ki dhedhel Semelekete.

“Baik Ki,” Pak Bakil menurut. Bertiga mereka keluar dan langsung berlari menuruni tangga sesuai perintah Ki Dedel.

“Iki Ki dhedhel Semelekete. Dhemit ora ndulit, setan ora doyan!” teriak Ki dhedhel lantang.

Pocong Mat Maut masih tetap tegar di tempatnya, ia menatap tajam ke arah Pak Bakil yang baru saja keluar dari kamar itu. Lalu ia melompat hendak mengerjarnya, namun Ki dhedhel lebih sigap untuk menghadang di depan. “Akulah lawanmu, pocong sialan!” Ki dhedhel berteriak sembari mengacung – acungkan kerisnya, Kyai Kere.

Sementara itu, pak Bakil sekeluarga menunggu di bawah tambah kalap. Mampukah dukun yang disewanya itu menghadapi pocong Mat Maut? Semuanya belum jelas kalau salah satu belum keluar dan menuruni tangga.

Brak! Terdengar suara daun pintu yang dibanting keras. “Aduh! Ki dhedhel itu bagaimana to? Kalau mau duel ya duel saja, tak usah merusak pintu segala. Mahal itu harganya. Dasar semelekete!” umpat Pak Bakil.

Tak lama kemudian, Ki dhedhel berlari turun diikuti Mat Maut yang melompat – lompat di belakangnya. Seperti yang terduga, lompatan Mat Maut itu kalah dengan larinya Ki Dedel. Maka Ki dhedhel yang lebih dulu sampai di bawah. Sementara Mat Maut masih melompat menuruni tangga dengan hati – hati, takut tergelincir. Dan, dengan sigap Ki dhedhel menjegal Pocong Mat Maut saat ia melompat. Walhasil, Mat Maut tergelincir dan bergulingan di tangga dan kesulitan untuk bangun karena seluruh tubuhnya terikat.

“Buka tali pocongnya, sebelum dia bisa berdiri lagi. Cepat!” pekik Ki dhedhel di sela batuknya.

Tanpa basa – basi lagi, Pak Bakil segera mendekati Mat Maut. Gunting yang sejak tadi dipersiapkannya segera diarahkan ke ikatan Mat Maut bagian kepala. Sekali gunting, tali itu putus. Mat Maut mengelepar, asap putih mulai keluar sementara tubuhnya lenyap perlahan - lahan.

Pak Bakil sekeluarga pun lega. Akhirnya, berakhirlah teror yang disebabkan oleh pocong Mat Maut. “Ha ha ha, baru seperti itu saja mau menagih hutang. Kau masih belum pantas,” ujar pak Bakil congkak.

“Itulah, kenapa saya bilang Mat Maut matre. Dia masih katutan ragaya, jadi masih bisa dipukul atau dijegal seperti tadi,” kata Ki dhedhel dengan senyum mengembang. Ia lalu menuruni anak tangga yang berjumlah dua puluh itu.

“Kamu boleh senang mengirim saya kembali ke alam baka, Pak Bakil. Tapi bagaimana dengan mereka?” tanya Mat Maut yang sekarang berujud suara tanpa rupa.

Pintu depan terbuka, kepulan asap merangsak masuk bersamaan dengan beberapa makhluk halus. Mbok Cikrak dalam wujud kuntilanak, Pak Gondrong yang dulu kurus sekarang bertubuh tinggi besar mirip genderuwo, Yu Tomblok yang punggungnya berlubang, dan lain – lain. Mereka adalah orang – orang yang semasa hidupnya menjadi korban keserakahan Pak Bakil sekeluarga.

“Maaf angger Bakil, ini diluar order saya. Daa.” Ki dhedhel buru – buru ngacir, cari selamat lewat pintu belakang. Cairan kuning pekat berbau pesing mengalir dari pangkal pahanya saat kabur, tapi ia tak peduli.

Sementara Pak Bakil mematung seketika. Kakinya bergetar dan tanpa terasa ia juga terkncing – kencing seperti Ki dhedhel barusan. Bedanya, ia tak kuasa untuk melangkahkan kakinya.

“Ampuuuun Pakdhe, Mbokdhe, semuanya,” Pak Bakil memohon.

Hantu – hantu itu begeming di tempatnya, mereka masih menatap tajam.

“Baik, baik, harta kalian yang saya rampas akan saya kembalikan pada keluarga kalian yang masih hidup. Tapi, tolong jangan ganggu kami lagi,” kata Pak Bakil memelas. Lalu ia pingsan di tempat.

Semenjak kejadian malam itu, di desa Pak Bakil tidak terdengar lagi cerita ia merampas hak orang lain. Entah kapok atau pindah ke tempat lain untuk meneruskan aksinya, tak ada yang tahu?


Dul Karim yang nyentrik itu, sekarang sedang berjalan cepat ke rumah tetangga yang jaraknya kurang lebih tiga ratus meter dari rumahnya. Dia menghadiri selamatan, tetangganya itu lima hari yang lalu mendapat cucu baru. Sekalian, dia diminta untuk memberi nama si jabang bayi. Meskipun otaknya agak - agak gimana gitu, tapi kalau masalah kosakata dia yang paling ahli, setidaknya di antara sekian banyak warga desanya yang masih belum mengenyam pendidikan tinggi. Yap, desa tempat Dul Karim tinggal itu memang terletak di puncak bukit yang terisolasi dari peradaban. Jadi wajar saja.

Seorang teman memaksa ikut kendati tidak diundang, dia mengajukan berbagai alasan yang tak dapat ditolak Dul Karim. Sebenarnya, dalam hati dia sangat keberatan kalau Dul Karim yang diminta untuk memberi nama bayi berumur lima hari itu. Sebab dia merasa lebih pintar darinya. Singkat kata, diapun akhirnya ikut.

"Saya sudah memikirkan nama yang bagus untuk anak ini. Karena dia lahir sesaat setelah hujan rintik - rintik, bersamaan dengan munculnya matahari maka saya beri dia nama Tejo. Hm, tapi kurang panjang. Sebentar, saya pikirkan dulu tambahannya..." kata Dul Karim yang langsung mengrenyitkan dahinya itu.

Sejurus kemudian temannya tadi tertawa sendirian. "Nama apa itu? Kampungan sekali," ejeknya.
Dul Karim pun membalas dengan bertanya, datar. "O. Kurang keren, begitu?"
"Ya."
"Kalau diubah jadi Niji, bagaimana?"
"Hm, sedikit lebih modern."
"Kalau Rainbow?"
"Itu yang keren! Terdengar seperti rocker."
Dul Karim mengrenyitkan kening, "Memang kamu tahu apa artinya?" tanyanya diiringi gelengan kepala si teman.
"Goblok! Tiga kata itu punya arti yang sama," maki Dul Karim tanpa rasa bersalah.

Empunya hajatan dan semua tamu yang hadir di situ pun cekikikan menahan tawa.


David Richeson, dalam bukunya yang berjudul "Euler's Gem" bab 9 menuturkan biografi ringkas Descartes. Ulasannya tentang kehidupan filsuf penggagas rasionalisme itu tidaklah menarik, sebab keterangan yang lebih lengkap dapat diperoleh dari buku - buku filsafat. Sementara buku Richeson itu adalah buku tentang geometri, tepatnya topologi.

Bagian yang menggelitik terdapat di akhir bab, di mana diterangkan (secara ringkas juga) Descartes pernah meneliti polihedron, bahkan menemukan versi alternatif dari rumus Euler yang terkenal. Karena Descartes hidup seabad sebelum Euler, agaknya logis untuk memberikan kredit terhadap penemuan rumus itu. Richeson juga menulis, para ahli sempat berdebat mengenai siapa yang seharusnya berhak mendapat paten. Namun pada akhirnya ia cenderung memihak Euler dengan beberapa alasan, salah satunya adalah rumus Euler itu dapat diperluas ke sembarang dimensi seperti yang dilakukan Poincare.

Bagi saya ini sangat mengherankan, mengapa kredit penemuan orang yang hidup ratusan tahun silam masih diperdebatkan? Andaikan paten itu menghasilkan penghargaan, baik secara finansial maupun psikologikal, akankah orang yang telah mati itu terimbas? Saya kira tidak. Pun juga, ahli waris dari penemu yang bersangkutan sudah tidak jelas. Andaikan ahli waris sang penemu masih ada, atau jika saja para ahli yang berdebat itu punya kepentingan pribadi, itu sudah lain soal. Jadi, daripada memperdebatkan paten untuk penemuan yang penemunya sendiri telah mati berabad lamanya (baca : kadaluwarsa), bukankah lebih baik memperdebatkan hal - hal yang bersifat kekinian? Mari kita renungkan bersama...


Nashiruddin bernama asli Muhammad ibn Muhammad ibn Hasan At - Thusi, ia juga disebut dengan Abu Ja’far. Lahir pada 11 Jumadil Awal 597 H, bertepatan pada 18 Februari 1201 di daerah Thus. Ayahnya bernama Muhammad bin Hasan, seorang alim, ahli fiqih dan hadis. Keluarga Nashiruddin bermazhab Syiah, karenanya sejak kecil ia belajar agama pada ulama Syiah.

Kecintaannya akan ilmu membuatnya tak segan untuk belajar berbagai subjek, tak pandang apakah ilmu agama atau ilmu umum. Tak heran jika ia punya banyak guru. Dalam bidang hadis misalnya, ia berguru pada ayahnya sendiri Muhammad ibn Hasan. Alqur'an dan ilmu fiqih pun ia pelajari dari sang ayah. Shahabuddin Ali ibn Abi Manshur pamannya dari pihak ibu, mengajarinya manthiq dan ilmu kalam. Sedangkan untuk matematika, ia belajar pada Kamaluddi Muhammad Hasib.

Saat masih remaja, ayah Nashiruddin meninggal. Tak lama setelah itu ia pun meninggalkan kota Thus untuk meneruskan belajarnya. Tujuan pertamanya adalah kota Nishabur. Di kota tersebut ia belajar pada beberapa ulama' kenamaan seperti Fariduddin Damad, Quthbuddin Mishri, Kamaluddin Yunesi dan Abu Sa'adat Isfahani.

Tahun 616 H invasi bangsa Mongol mencapai Iran, yang membuat Nashiruddin harus mengungsi ke Iraq. Saat itulah seorang ulama dari Qahestan bernama Nashiruddin Abdurrahim ibn Abi Mansur mengajaknya tinggal di istana Qahestan. Nashiruddin segera menerima ajakan itu. Di tempat tersebut ia menyusun karyanya dalam bidang astronomi berjudul Risalah Mainiyah, Asasul Iqtibas dalam bidang logika serta Akhlaqi Nasiri dalam bidang akhlak. Karya terakhir dipersembahkan khusus untuk Nashiruddin Muhtashim sang pemilik istana.  

Bangsa Mongol merebut istana Qahestan pada tahun 1257. Nashiruddin ditangkap, namun karena Hulagu Khan sang pemimpin invasi itu mengetahui kepandaiannya ia justru diperlakukan secara hormat. Bahkan Hulagu mengangkat Nashiruddin sebagai penasehatnya di bidang ilmu pengetahuan. Konon, ia tidak berani mengambil keputusan yang bersifat ilmiah tanpa saran Nashiruddin.

Dalam koloni bangsa Mongol itulah Nashiruddin mencapai masa – masa emasnya. Ia mengusulkan pembangunan perpustakaan dan observatorium yang memuat teropong bintang yang paling canggih pada masa itu pada Hulagu, dan disetujui. Menurut Kennedy, setelah dikembangkan oleh salah seorang murid Nashiruddin, Al-Urdi, peralatan tersebut setara dengan milik Tyco Brahe (astronom yang menjadi mentor Kepler) abad ke-16.

Berdasarkan pengamatan terhadap benda – benda langit menggunakan teropong itu, beberapa ilmuwan di bawah pimpinan Nashiruddin menyusun Zij-i Ilkhani. Yakni tabel astronomi paling lengkap pada zamannya. Nama Ziij-i Ilkhani dinisbatkan pada gelar kehormatan pasukan berkuda Mongol.  Perampungan tabel tersebut memakan waktu dua belas tahun dan berhasil dilengkapi pada tahun 1272.  Karyanya yang lain mengenai astronomi adalah Tadzkira fi’ilm Hai’a, dalam risalah ini Nashiruddin mengkritisi model tata surya Ptolemy. Kekurangan model Ptolemy sebenarnya sudah dicurigai oleh astronom muslim, namun belum ada yang dapat menciptakan model tandingan yang konsisten sampai masa Nashiruddin. Ialah yang akhirnya mengemukakan model yang menentang Ptolemy.

Nashiruddin juga aktif dalam mengikuti serangan Hulagu Khan ke berbagai daerah dengan tujuan mengumpulkan naskah – naskah ilmiah. Ada yang mengatakan bahwa koleksi perpustakaan Nashiruddin mencapai empat ribu judul. Di antara penjaga perpustakaan tersebut ada seorang ahli sejarah bernama Ibn Al-Fawti, tawanan tentara Mongol yang diselamatkan Nashiruddin. 

Matematika pun tak luput dari Nashiruddin, untuk bidang ini ia banyak menulis resensi karya – karya matematikawan Yunani kuno. Pun juga menulis bukunya sendiri.  Nashiruddin banyak menangani masalah geometri (terutama trigonometri) dan teori bilangan. Aturan sinus yang kini menjadi bagian dari pelajaran trigonometri itu adalah temuannya.

Dalam bukunya yang lain, Syakl al-Qitha’ Nashiruddin memilah ilmu astronomi dengan trigonometri sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Buku tersebut terdiri atas lima bab, yang setiap bab memuat beberapa pasal. Bab pertama mencakup 14 pasal, bab kedua 11 pasal, bab ketiga 3 pasal, bab keempat 5 pasal, bab kelima 7 pasal.

Nashiruddin tetap mempunyai pengaruh pada pemerintah Mongol setelah Hulagu meninggal. Kira – kira tahun 1271 ia berhasil mengobati luka Abaqa sang penerus Hulagu, yang diakibatkan oleh sapi liar. Tahun 1274 Nashiruddin menderita sakit, dan tak lama kemudian ia meninggal. Ia dimakamkan di dekat makam Syiah Imam ketujuh, Musa Al-Kazim, di dekat Baghdad. 

Referensi :
Amin, Husayn Ahmad. 1995. Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. terj. Bandung: Remaja Rosdakarya.
‘Utsman, Muhamad ‘Ali. 2010. Ilmuwan – Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia. terj.  Yogyakarta : Beranda Publishing.
Mohammed, Mohaini. 2001. Matematikawan Muslim Terkemuka. terj. Jakarta : Salemba Teknika.



Saya punya teman yang sangat menggemari sufisme. Tidak tanggung - tanggung, tema yang paling dia sukai adalah paham wihdatul wujud dan yang sejenisnya. Entah kenapa, teman yang satu ini gemar menyerang dosen agama dengan pertanyaan - pertanyaan seputar wihdatul wujud, meskipun bidang sang dosen agama bukan tasawuf. Katanya, pertanyaan - pertanyaan seperti itu harus ditanyakan.

Pada suatu kesempatan kami berdua duduk di sebuah warung dekat kampus, kami hampir selesai menikmati menu makan siang hari itu. Kebetulan, iqomat sholat dhuhur baru saja selesai. Seorang teman lainnya, yang terkenal 'agamis' memperingatkan kami agar cepat - cepat menyelesaikan makan dan bersegera untuk sholat berjamaah di masjid. Si penggemar  sufi menolak, bahkan ketika si agamis mengingatkan bahwa pahala sholat berjamaah itu dua puluh tujuh kali lipat dibanding sholat sendiri. Penggemar sufi lantas berargumen, ibadah bukanlah untuk mencari pahala. "Cari saja pahala sana," kata si penggemar sufi yang lalu membuat si agamis meninggalkan kami berdua.

Di hari yang lain, saya dan penggemar sufi duduk berdampingan di ruang kuliah. Kronologinya begini, saya pilih tempat duduk itu karena berada pada jangkauan kipas angin yang tergantung di langit - langit. Maklum, hari itu panas. Sementara dia yang datang beberapa saat kemudian, agak memaksa duduk di samping saya tanpa alasan yang jelas.

Siang itu kami diajar oleh pak dosen "antropik". Saya memberikan gelar itu karena beliau gemar menganalogikan fenomena fisika dengan fenomena sosial, yang kadang justru menimbulkan miskonsepsi. Ciri khas beliau yang lain adalah murah nilai dengan sedikit tugas.

Lantas apa hubungan antara dosen antropik dengan sufi? Sebentar, mari kita skip kuliahnya sampai satu setengah jam ke depan. Pak dosen menuliskan beberapa butir soal (yang tidak menantang), lalu mengumumkan bahwa siapa saja yang maju dan mengerjakan salah satu soal di papan tulis akan diberi nilai. Si penggemar sufi nampak bersemangat. Ia hampir beranjak dari tempat duduknya ketika saya bertanya, "Kamu berminat maju?". Nampaknya dia menyadari arah pembicaraan, dan langsung menjawab dengan logat originalnya, memelas, "Kita kan juga butuh nilai." Dia pun mulai berbicara banyak untuk memperkuat alasannya, tapi segera saya stop.
"Sebentar, kamu berminat maju?" saya mengulangi pertanyaan.
"Ya," jawab si penggemar sufi singkat.
"Ya sudah. Pertanyaannya hanya membutuhkan jawaban 'ya' atau 'tidak'," balas saya ketus.

Ditawari pahala, ditolak. Giliran nilai dari dosen, dipungut. Sufi atau pseudo sufi? Mari kita renungkan bersama...





Oleh : Hari Narasoma T.S.
Judul Buku : EINSTEIN : Kehidupan dan Pengaruhnya bagi Dunia
Penulis : Walter Isaacson
Dimensi : 15,5x23,5 cm Tebal : 699+xxvii halaman
Penerbit : Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka)

Buku yang ditulis oleh Walter Isaacson ini menjawab keingintahuan mereka yang hendak mengenal Einstein lebih jauh, pun juga memahami apa yang telah dilakukannya sehingga menjadi fisikawan yang paling diagungkan di seantero jagad.

Filsuf dan matematikawan Bertrand Russell pernah mengatakan bahwa semua orang tahu Einstein telah melakukan sesuatu yang mengagumkan, namun hanya sedikit sekali yang benar – benar tahu apa yang dilakukannya. Sesungguhnya pekerjaan Einstein itu adalah memperumum konsep fisika yang dipelopori oleh Newton tiga abad sebelumnya.

Dalam fisika Newton, ruang dan waktu dianggap sebagai dua objek terpisah. Ruang menjadi “panggung” tempat kejadian – kejadian berlangsung. Lebih jauh Newton mengasumsikan adanya ruang mutlak untuk mengamati kejadian – kejadian fisika secara pasti. Asumsi ini didasarkan pada percobaan embernya yang terkenal. Adapun waktu bersifat mutlak, mengalir dari masa lampau tak hingga menuju masa depan yang tak hingga pula. Berpijak pada anggapan itulah fisika Newtonian dirumuskan.

Meskipun rumusan tersebut telah mapan selama tiga ratus tahun serta sukses menjelaskan fenomena – fenomena fisika, bukan berarti tidak ada kritik sama sekali. Kebanyakan keberatan berawal dari para filosof. Sebagai tandingan bagi ruang mutlak, matematikawan Jerman, Leibniz, mengusulkan ruang yang bersifat relasional. David Hume menyatakan bahwa sebab-akibat (yang dalam hal ini menjadi konsekuensi filosofis dari fisika Newton) hanyalah konstruksi mental manusia. Alih – alih mempercayai hubungan sebab-akibat Hume mencetuskan gagasan bahwa apa yang nampak sebagai sebab-akibat itu sesungguhnya adalah kejadian-kejadian yang berurutan. Ernst Mach mengemukakan penolakan terhadap gagasan ruang mutlak Newton dengan berasumsi percobaan embernya akan memberikan hasil yang berbeda jika dilakukan di tempat yang hampa materi. Orang – orang inilah, terutama Mach, yang kelak sangat mempengaruhi pemikiran Einstein.

Tahun 1905, Einstein memberatkan teori Maxwell tentang cahaya daripada usulan Newton. Besar kecepatan cahaya di ruang hampa adalah sama bagi semua pengamat, tidak peduli bagaimana dan seberapa cepat pengamat itu bergerak. Disertai dengan generalisasi prinsip Galileo, bahwa hukum – hukum mekanika mempunyai bentuk yang sama bagi para pengamat yang bergerak secara seragam, Einstein merumuskan teori relativitas khusus. Pencapaian ini mengubah pandangan manusia tentang ruang dan waktu mutlak, serta menyatukan kedua objek tersebut menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, yakni ruangwaktu. Namun demikian, teori relativitas khusus Einstein masih dibayangi oleh gravitasi Newton yang belum dicakupnya.

Menurut Newton, terdapat gaya tarik-menarik antara dia buah benda bermassa. Besar gaya itu sebanding dengan massanya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak dari kedua buah benda. Nampaknya sangat logis jika salah satu benda tiba – tiba menghilang, meka pengaruhnya pada benda kedua hilang seketika itu juga tidak peduli berapapun jaraknya. Ini bertentangan dengan salah satu konsekuensi teori relativitas khusus, bahwa tidak ada yang bergerak lebih cepat dari cahaya. Karena itulah, Einstein berusaha memperumum teorinya sedemikian rupa sehingga gravitasi tercakup di dalamnya. Dalam usahanya memperumum teori relativitas, Einstein bukan tidak menemui hambatan. Meskipun gagasan utamanya muncul pada tahun 1908 namun ia tidak bisa merumuskan teorinya begitu saja karena kerumitan teknik matematika yang dibutuhkan. Sementara Einstein sendiri bukan orang yang ahli dalam bidang matematika.
Teori relativitas yang diperumum itu baru bisa dirammpungkannya tahun 1915, setelah ‘berguru’ pada temannya Marcell Grosmann dan terlibat konflik kecil dengan matematikawan handal Jerman, David Hilbert. Menurut teori ini, gravitasi tak lain adalah kelengkungan ruangwaktu semata.

Bagaimana proses pemikiran Einstein sehingga fisikawan nyentrik itu bisa meraih gagasan tentang teori relativitasnya, disajikan secara menarik dan dengan bahasa yang ‘ringan’ setara novel – novel fiksi. Tanpa latar belakang fisika pun, pembaca dapat menikmati buku setebal 699+xxvii ini. Di sisi lain, ketebalan buku tidak menjadikannya sarat dengan penjelasan yang kabur. Justru sebaliknya, ia menjanjikan kepadatan informasi yang dimuat.

Di samping sejarah hidup yang biasanya melulu tentang penemuan teori relativitas, problem – problem pribadi fisikawan kelas wahid itu juga disajikan secara detail. Misalnya rumahtangga Einstein dengan Mileva Maric yang berujung perceraian, pernikahan kedua dengan sepupunya Elsa, juga penolakan kerasnya terhadap pengembangan senjata nuklir –yang ironinya adalah produk dari teori relativitas. Singkat kata, buku ini layak dibaca oleh semua kalangan, baik yang secara khusus berkecimpung di dunia fisika maupun sekedar ingin menikmati kisah hidup sang ilmuwan akbar.