twitter


Siang ini aku mengikuti suatu mata kuliah, yang pada pertemuan pertama ini hendak ditutup dengan penjelasan ringkas mengenai empat persamaan Maxwell yang terkenal. Bu dosen tampaknya ingin memberikan gambaran materi yang hendak disajikan minggu depan. Perlu diketahui, aku sudah pernah mengambil mata kuliah ini sebelumnya, waktu itu aku dapat nilai jelek, yaitu C/D. Jadi aku duduk di sini dalam rangka mengulang, didampingi dosen yang sama.

Setelah menulis keempat persamaan Maxwell (dalam bentuk diferensial), beliau lalu memaparkannya satu - persatu. Semua keterangan beliau memuat keganjilan yang sangat berarti, khususnya pada persamaan ketiga. "Divergensi B (ditulis "div B") sama dengan nol, karena pada magnet, gelombangnya tidak bergerak. Ya, gelombangnya tidak bergerak, jadi sama dengan nol," kata bu dosen.

Selesai memaparkan keempat persamaan Maxwell itu, bu dosen yang baik hati itu menawarkan pertanyaan ke seluruh penghuni kelas. Aku pun mengangkat tanganku tinggi - tinggi.

"Ya? kamu." tunjuk bu dosen.

"Anu Bu... Saya tidak paham penjelasan Ibu tadi di bagian div B = 0."

"Bukankah sudah jelas?"

"Mmm... Saya membaca beberapa buku terkait elektrodinamika yang tentu saja, di dalamnya persamaan Maxwell dibahas, misalnya Introduction to Electrodynamics-nya Griffiths, Eletromagnetic Fields-nya Wangsness dan Classical Electrodynamics-nya Jackson," kusebut beberapa buku rujukan yang lazim digunakan untuk mempelajari salah satu cabang fisika; "elektrodinamika".

"Akan tetapi dari semua buku yang saya baca itu keterangan di dalamnya lain dari keterangan yang Ibu paparkan tadi. Menurut ketiga buku tersebut, div B = 0 menunjukkan ketiadaan magnet berkutub tunggal. Faktanya sampai sekarang wujud fisis magnet berkutub tunggal itu belum ada. Jika kita punya, katakanlah sebuah magnet batang yang terdiri dari kutub utara dan kutub selatan lalu kita potong melintang tepat di tengah, maka alih - alih terpisah menjadi kutub utara saja dan kutub selatan saja, kedua potongan tersebut masing - masing terdiri dari kutub utara dan kutub selatan seperti sebelum dipotong. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan gelombang, apapun itu," paparku.

Gambarnya dicolong dari sini
Setelah menghela nafas sejenak, aku pun melanjutkan, "Adapun div B, kasarnya, menyatakan jumlah garis  gaya magnet yang menembus permukaan khayal pelingkup magnet yang bersangkutan. Dengan catatan, garis yang menembus permukaan pelingkup "masuk" bernilai negatif, sedangak garis "keluar" bernilai positif. Kita biasa menggambarkan garis - garis gaya ini berawal dari bagian kutub utara dan berakhir di kutub selatan. Oleh karena jumlah garis gaya yang masuk sama dengan yang keluar maka hasilnya nol. Itulah kenapa div B = 0."

"Keterangan kamu itu membingungkan!" sanggah bu dosen. "Daripada berpusing - pusing dengan keterangan seperti itu, mending kan pakai keterangan saya tadi." Bu dosen lalu memalingkan perhatiannya pada mahasiswa - mahasiswa lain. "Yang lain sepakat sama penjelasan yang mana?"

"Yang sederhana saja lah Bu, yang sulit - sulit tidak usah diambil," celetuk seorang mahasiswa yang berpakaian rapi.

"Nah, berarti kita sepakat. Sekarang kuliahnya sampai di sini saja, waktu saya sudah habis," ujar Bu Dosen sembari merapikan bahan ajarnya di atas meja, lalu membiarkan para mahasiswanya keluar lebih dulu.

Beberapa saat kemudian, aku tersenyum - senyum sendiri sambil berjalan cepat meninggalkan ruang kuliah. Aku berpikir bahwa bu dosen yang itu benar - benar keren. Bagaimana tidak? Konsep fisika di-vote. Mungkin beliau adalah dosen yang kalau mengajar fisika, fisikanya segan lalu mengikuti keterangan beliau. Sialnya, aku lebih percaya tulisan Griffiths dkk, tentu saja aku mengerjakan soal ujian berdasarkan pemahamanku terhadap buku rujukan yang lazim itu, yang boleh jadi tidak sesuai dengan bu dosen. Buntut - buntutnya aku dapat nilai jelek lagi. Ah, sekarang saatnya berubah menjadi dinosaurus jawa tulen yang baru - baru ini menjadi meme di internet, #Akuraurus.

2 komentar:

Posting Komentar

Monggo komentar...