twitter


Jepang pra-1945 menampilkan wajah congkak kepada dunia, khususnya kepada Asia. Ini tidak lain karena Jepang ketika itu mempercayai mitos bahwa ia keturunan dewa, dan bahwa balatentaranya tidak terkalahkan. Tetapi, begitu dipukul kekalahan dalam bulan Agustus 1945, rakyat Jepang menyadari bahwa mereka harus menyadari nilai-nilai perdamaian, demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Sebagai hasilnya, mereka menjadi rendah hati.

Paragraf di atas dapat kita temui dalam buku berjudul "Masalalu Selalu Aktual" tulisan P. Swantoro dalam bab ketika ia menulis tentang Prof. Rokuro Hidaka dan pandangannya terhadap Jepang modern. Mungkin sebagian dari kita beranggapan bahwa keyakinan sekelompok orang bahwa mereka punya hubungan khusus dengan entitas transendental dan karenanya berhak mendominasi kelompok lain, adalah keyakinan yang konyol. Apalagi jika kemudian keyakinan tersebut terbantahkan dengan cara yang sangat memalukan.

Well, saya juga beranggapan seperti itu meski tidak secara spesifik merujuk kepada Jepang. Tapi bagaimanapun, saya harus mengacungkan jempol pada negara yang mendapat julukan "Tanah Tempat Matahari Terbit" tersebut. Pasalnya keyakinan yang mereka anut adalah hasil swadaya mereka sendiri. Setidaknya "keyakinan konyol" itu bukan produk impor.

0 komentar:

Posting Komentar

Monggo komentar...